Breaking News:

Tajuk Tamu

'Gereja Rumah', Konstruksi Eklesiologi Hadapi Pandemi Covid-19

Dalam pengamatan Sovian rupanya ada fenomena elitisme tertentu dalam persekutuan gerejawi.

net/igoogledisrael.com
Wisatawan mendatangi Gereja Kelahiran Kristus di Betlehem. Foto sebelum pandemi Covid-19. 

Oleh:

Stefi Rengkuan

Anggota Presidium ISKA
Wakil Bendahara PIKG

TULISAN ini adalah tanggapant atas tulisan Sovian Lawendatu, "Gereja Keluarga, Gereja Tanpa Institusi Formal".

Tulisan Bung Sovian Lawendatu dalam laman FB miliknya ditujukan untuk grup diskusi yang khusus dibentuk oleh tokoh Kawanua yang juga adalah Sekjen PIKI, Audy Wuysang, menghadapi sikon pandemi Covid-19 ini [https://m.facebook.com/groups/782641955598951?view=permalink&id=782717638924716] sangat menarik.

Sovian berangkat dari pengalaman dan refleksi tertentu. Istilah "gereja keluarga" atau "gereja rumah" ini sendiri bukan hal baru. Namun sangat aktual dan ditawarkan sebagai wacana strategis menyikapi zaman pandemi COVID-19 ini, Gereja domestik (Latin: domus = rumah) atau hauskirche (Jerman) atau ecclesiola (Latin) ini mesti diletakkan dalam konteks teologi khususnya eklesiologi di balik itu.

Dalam pengamatan Sovian rupanya ada fenomena elitisme tertentu dalam persekutuan gerejawi yang menjadi pengatur dan penentu jemaat, dan dengan efek-efek negatif turut menyertai dan membuat kegelisahan dan tanda tanya di kalangan Jemaat dan para pemimpin di lapisan "pelaksana" di bawah.

Sovian berusaha menunjukkan dalam sejarah reformasi sampai Calvin (karena menjadi rujukan tradisi teologi mayoritas denominasi Gereja Protestan di Indonesia) bahkan merujuk ke Gereja perdana (sebelum gereja negara ala Konstantin), bahkan Gereja para rasul sebagaimana bisa dilacak dalam kitab Kisah para rasul dan tulisan apostolik Paulus, dan tentu saja Injil synoptik itu sendiri yang mulai ditulis kira-kira sejak rasul dan lingkaran pengikut Yesus terakhir meninggal.

Dalam konteks Gereja Katolik Roma pada abad pertengahan (bisa dilacak sampai masa Kaisar Romawi menjadikannya sebagai agama resmi negara), elitisme itu nampak jelas dalam Hirarki terpusat dalam diri Paus di Roma. Hirarkisme itu adalah kuasa tak terbatas Paus sebagai penentu segalanya bahkan yang mengatasi para pemimpin bangsa di masa serba kerajaan di benua biru itu.

Hirarkisme ini pada akhirnya, atas kehendak sejarah dan Roh Allah sendiri, tiba pada zaman Modern sebagai puncak dari Abad Pertengahan (abad ke 5 - 15), yang kemudian mempersiapkan lahirnya zaman Aufklaerung, dan saatnya mendapat gugatan dan koreksi serta perlawanan yang melahirkan perpecahan dan pemisahan tertentu sampai kemudian menjadi "stabil" lagi seiring otonomi berpikir dan sekularisme serta otoritas negara menjadi penengah.

Halaman
123
Editor: Alexander Pattyranie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved