Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

News

Taiwan Ingin Dialog dengan China, Tapi Presiden Tsai Ing-wen Tak Terima Syarat '1 Negara, 2 Sistem'

Kabarnya dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan, Taiwan menginginkan dialog dengan China tapi tidak menerima syarat "satu negara, dua sistem".

Editor: Glendi Manengal
Kompas.com
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kabarnya dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan, Taiwan menginginkan dialog dengan China tetapi tidak bisa menerima syarat "satu negara, dua sistem".

Terkait hal itu, Ia menyerukan kedua belah pihak menemukan cara untuk hidup berdampingan.

Keterangan dari pidatonya setelah pelantikan untuk masa jabatan keduanya dan terakhir, Rabu (20/5), Tsai menyatakan, hubungan antara Taiwan dan China telah mencapai titik balik historis.

Ayah Petarung UFC Khabib Nurmagomedov Kembali Koma, Sebelumnya Sudah Keluar Masuk Rumah Sakit

Kiesha Alvaro 11 Tahun Pisah, Pasha Ungu: Selamat Ulang Tahun yang ke-16 Putraku

Seorang Wanita Tak Mau Lakukan Rapid Test, Coba Lobi Petugas Tawarkan Uang Damai

Presiden Taiwan Tsai Ing Wen
Presiden Taiwan Tsai Ing Wen (Istimewa Via TribunnewsWiki.com)

"Kedua belah pihak memiliki kewajiban untuk menemukan cara untuk hidup berdampingan dalam jangka panjang dan mencegah intensifikasi antagonisme dan perbedaan," katanya seperti dikutip Reuters.

Tsai dan Partai Progresif Demokratik yang memenangkan pemilihan presiden dan parlemen pada Januari lalu dengan telak, bersumpah untuk menentang China, yang mengklaim Taiwan sebagai miliknya dan di bawah kendali Beijing.

"Di sini, saya ingin mengulangi kata-kata perdamaian, paritas, demokrasi, dan dialog".

"Kami tidak akan menerima penggunaan Beijing, satu negara, dua sistem untuk menurunkan peringkat Taiwan dan merusak status quo lintas-selat. Kami berdiril dengan prinsip ini," tegas Tsai.

China menggunakan kebijakan "satu negara, dua sistem", yang seharusnya menjamin tingkat otonomi yang tinggi, untuk memerintah Hong Kong, bekas kolini Inggris yang kembali ke Pemerintahan Tiongkok pada 1997.

China juga menawarkan kebijakannya tersebut ke Taiwan dan pernah mengatakan, akan membawanya di bawah kendali Beijing dengan kekuatan jika diperlukan.

Tapi, semua partai-partai besar di Taiwan telah menolaknya.

Tsai menyebutkan, Taiwan adalah negara merdeka yang dia sebut sebagai Republik China, dan tidak ingin menjadi bagian dari Republik Rakyat Tiongkok di bawah perintah Beijing.

China telah meningkatkan latihan militernya di dekat Taiwan sejak pemilihan presiden yang dimenangkan Tsai.

Tiongkok menerbangkan jet tempur ke ruang udara pulau itu dan kapal perangnya berlayar di sekitar Taiwan.

Tsai mengatakan, Taiwan telah melakukan upaya terbesar untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan yang sempit, yang memisahkan pulau demokrasi itu dari tetangganya yang otokratis, China.

"Kami akan melanjutkan upaya-upaya ini, dan kami bersedia untuk terlibat dalam dialog dengan China dan memberikan kontribusi yang lebih konkret untuk keamanan regional," ujarnya yang berpidato di taman bekas rumah gubernur Jepang di Taipei, di depan pejabat dan diplomat dengan menerapkan jarak sosial.

Halaman
12
Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved