Renungan Minggu
Renungan Minggu - Sense of Crisis
Akibat kejahatan dan perlawanan umat Israel, maka meski mereka bangsa pilihan Allah, mereka tetap dihukum Allah
Penulis: | Editor: David_Kusuma
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Akibat kejahatan dan perlawanan umat Israel, maka meski mereka bangsa pilihan Allah, mereka tetap dihukum Allah. Yerusalem kota kebanggaan mereka dibumihanguskan. Mereka dibuang dan ditawan di Babel (Babilonia).
Ini terjadi sekitar tahun 586 SM, ketika raja dan warganya telah berpaling dari Allah. Mereka dibuang selama 70 tahun. Namun ketika Kerajaan Babel dikuasai oleh Persia sekitar tahun 538, maka raja Koresy pada waktu itu digerakan Tuhan untuk memulangkan umat-Nya kembali ke Yerusalem.
Mereka pun dipulangkan dalam 3 gelombang. Gelombang pertama dipimpin oleh Zerubabel, gelombang kedua oleh Nabi Ezra dan gelombang ketiga sekitar tahun 445, dipimpin oleh Nabi Nehemia di zaman raja Artahsasta.
Nehemia adalah Juru minum raja. Dengan demikian dia orang yang dipercaya raja. Dia juga sempat menjadi bupati dan gubernur. Namun, meski seorang pejabat di kerajaan, dia sangat peduli dengan orang Israel yang masih mengalami banyak masalah ketika kembali ke Yerusalem.
• Bangun Akademi Junior Sulut United, Harapan Manajemen untuk Mengembangkan Sepak Bola di Sulut
Dia sangat prihatin tentang kondisi umat sebangsanya yang sedang menderita. Nehemia selalu bertanya mencari informasi kepada sesamanya, meski dia tinggal di Istana Raja yakni di Puri Susan.
Demikian firman Tuhan hari ini.
Datanglah Hanani, salah seorang dari saudara-saudaraku dengan beberapa orang dari Yehuda. Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem.* (ay 2)
Nehemia merupakan figur yang sangat peduli dengan kaum sebangsanya. Dia memiliki Sense of crisis (kepekaan terhadap masalah/krisis) yang tinggi atas pergumulan Israel. Termasuk dalam hal pembangunan tembok Yerusalem dan kota serta Bait Suci.
Dia sangat prihatin ketika mendengar cerita Hanani yang baru datang dari Yerusalem bahwa terjadi kekacauan yang mengakibatkan proses pembangunan terhenti bahkan terbengkalai dan dirusak lagi. Dia tak pernah berhenti mencari informasi tentang situasi dan kondisi negerinya.
Sense of crisis, Nehemia ini sesungguhnya dia miliki karena dia mendapatkan tugas sebagai hamba Allah (Nabi) untuk ikut bersama dengan Ezra dan para pendahulunya membangun Bait Allah dan Yerusalem, di tengah krisis yang melanda negerinya.
• Dandim 1302/Minahasa Pantau Pemakaman Jenazah PDP Covid-19 di TPU Ranowangko
Nehemia adalah seorang yang setia kepada Allah, baik hati, dan lurus prilaku hidupnya. Dia tidak suka mencari untung. Tapi dia selalu peduli dengan umat Israel dan mau berkorban membangun kembali kerajaan Israel dan Yehuda.
Raja Artahsasta juga melanjutkan rencana raja Koresy memulangkan orang Israel. Inilah yang diharapkan Nehemia agar semua orang Israel berubah dan kembali ke jalan yang benar. Jangan lagi menimbulkan kekacauan tapi harus bekerjasama membangun kembali Yerusalem, Samaria dan Bait Allah.
Sahabat Kristus, Nehemia adalah figur yang cinta bangsanya yang sedang dalam pergumulan. Bangsa kita saat ini juga, sedang bergumul dengan pandemi Covid 19.
Kita pun diutus Allah untuk menjadi warga negara yang baik, peduli dengan bangsa kita dan sesama yang sedang bergumul. Kita hendaknya memiliki sense of crisis terhadap persoalan bangsa dan sesama anak bangsa Indonesia akibat badai Covid-19 ini.
Marilah kita menyatakan kepedulian kita sekecil apapun untuk membantu bangsa kita dan sesama yang terdampak. Setidaknya kita tekun berdoa kepada Tuhan agar Kristus bersegera memutus dan menghentikan matarantai Covid-19 ini.
• Bupati Bolsel Pastikan THR ASN Bolsel Aman, Kamaru : Kita Cairkan Tepat Waktu