Minggu Sengsara IV
MTPJ - “Dibiarkan Bergumul Sendiri”
Salah satu gaya hidup manusia modern untuk mem-bangun kehidupan adalah memiliki sifat yang individualistik. Semua orientasi dan kebutuhannya
MTPJ 22 – 28 Maret 2020 Minggu Sengsara IV
TEMA BULANAN :“Rumah Allah, Inspirasi Perubahan”
TEMA MINGGUAN :“Dibiarkan Bergumul Sendiri”
BACAAN ALKITAB : Markus 14:32-42
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Salah satu gaya hidup manusia modern untuk mem-bangun kehidupan adalah memiliki sifat yang individualistik. Semua orientasi dan kebutuhannya adalah untuk kepentingan yang terarah pada diri sendiri. Pelit berbagi apalagi berkorban untuk orang lain. Kalaupun harus berbagi, pasti kalkulasi diperhitungkan secara matang untung rugi. Bagi orang seperti ini, hidup tidak pernah gratis maka hukum ekonomi mendasari semua cara hidupnya dalam pergaulan sosial.
Gejala di atas, semakin memojokkan spiritualitas (kesadaran rohani) ke dalam ruang gelap. Agama sudah hampir tidak berfungsi lagi dalam hidup yang bersaing ketat di dunia modern. Gereja seharusnya mengajarkan tentang kepedulian dalam wujud belas kasih; pengurbanan tulus tanpa pamrih; berkurban tanpa imbalan apa-apa; dan menjaga harkat kemanusiaan dalam cara hidup kudus setiap hari.
Gereja tidak akan berhenti menyuarakan pesan-pesan moral-nya sebagai amanat dari TUHAN, Yesus Kristus untuk melawan kekuatan roh individualisme dalam spirit kemanu-siaan sepanjang zaman. Gerakan Mesianis dari nabi-nabi Israel diserukan dalam rangka agar manusia sejagad raya terus menerus menyerap semua nilai-nilai kehidupan sang Mesias. Orang percaya diberikan Tuhan untuk sebuah inspirasi bagi kepentingan perubahan hidup dalam tradisi dan budaya digital sampai pada percaturan politik dan ekonomi.
Permasalahan yang muncul bahwa manusia terlalu berani memilih untuk berjuang di dunia yang ketat persaingannya di semua sektor kehidupan serta dikelilingi bahaya dan siasat sesat kehidupan tanpa peduli dan belas kasih. Banyak individu sudah terhempas serta terisolasi dari dunia sosialnya tanpa rasa peduli dari sesamanya. Gereja ingin menggugah rasa solidaritas kemanusiaan itu, untuk menjadikan hidup bermakna sesuai dengan sabda TUHAN. Karena itu tema yang dipilih minggu ini adalah ‘Dibiarkan Bergumul Sendiri’.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Kitab Markus merupakan kitab injil tertua ditulis pada tahun 55-65 M., Itu berarti, sangat dekat dengan tahun pelayanan dan kematian Yesus Kristus tahun 30-33 M. Meskipun tidak dicantumkan nama penulis dalan injil ini, para sarjana sepakat bahwa injil ini ditulis oleh Markus sebagai sebuah pedoman iman bagi jemaat Kristen terutama saat sedang berhadapan dengan pemerintahan Romawi, kaisar Nero yang sangat kejam menyiksa dan membantai umat Kristen. Oleh karena itu, Injil ini memberikan kesaksian terutama pada Yesus Kristus, Anak Allah yang menderita sehingga mereka seolah diajak untuk mengambil bagian dalam penderitaan dengan Yesus Kristus.
Markus 14:32-42 dimana Yesus dan murid-Nya memasuki taman Getsemani, di sisi Timur Lembah Kidron, di sebuah daerah dekat Bukit Zaitun untuk berdoa. Di tempat inilah awal dari seluruh kesesakan jiwa-Nya menghadapi proses jalan penderitaan itu bermula.
Di dalam taman, Ia mengajak tiga orang murid lebih dekat melihat dan mendengar keluhan, rintihan dan kesusahan jiwa-Nya. Mereka itu adalah Simon (Petrus), Yakobus dan Yohanes. Mengapa nama-nama ini yang Dia pilih? Ketiga orang ini pernah menyombongkan diri untuk menjadi front pembela Yesus paling berkomitmen dan paling berani dari antara semua murid yang lain (Lihat pengakuan Petrus dalam Markus 14:31; Yakobus dan Yohanes dalam Markus 10:39).
Mereka adalah orang-orang yang mengaku paling siap menghadapi semua bentuk gangguan apapun terhadap Yesus, bahkan bersedia untuk mati bersama Dia. Sungguh, janji-janji ini memberikan dukungan dan semangat serta belarasa dalam persahabatan yang kelihatan begitu tulus, murni, setia dan teguh! Di taman Getsemani ini, sebelum Dia berdoa seorang diri beberapa meter dari mereka bertiga, Yesus mengutarakan rintihan jiwa-Nya: “hati-Ku sangat sedih seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” (ayat 34) Markus melihat situasi Yesus secara emosional bahwa Dia ‘sangat takut dan gentar’ (ayat 33). Markus memilih istilah ini, sangat takut atau (Yun. Ekhtambeisthai) yaitu perasaan jiwa yang amat cemas membayangkan datangnya penderitaan fisik dan mental secara mengerikan yang akan dihadapi orang ini.
Istilah Ekhtambeisthai tidak akan pernah dialami oleh manusia siapapun menghadapi penderitaan paling mengerikan sepan-jang peradaban manusia. Hanya kepada Yesus istilah khusus ini digunakan oleh Markus yang melukiskan kecemasan dari seorang suci, Yesus. Dia mengatakan ketakutan ini kepada mereka bertiga yang mengaku front pembela-Nya. Mereka diam seribu bahasa dan kecemasan yang amat sangat oleh Yesus sendirian dalam doa-Nya.
Ia bergulat dalam pergumulan-Nya seorang diri bersama Bapa-Nya. Sahabat-sahabat-Nya tidak peduli apalagi mau bersedia untuk berjaga-jaga, malah mereka tidur! (ayat 37). Bagi Markus, semua orang memiliki kerapuhan dalam membangun dan membina persahabatan karena tidak mengakar dalam jiwa. Janji kesetiaan manusia ternyata temporer, lemah dan tidak berkekuatan tetap.
Itulah sebabnya, semua janji yang dibangun oleh manusia selalu berkemungkinan besar bergeser dan berubah. Sulit sekali menemukan orang yang memiliki integritas tinggi untuk teguh dalam prinsip kesetiakawanan. Manusia mudah rapuh dan karena itu mudah jatuh! Yesus tahu bahwa janji sahabat-sahabat kepada-Nya adalah omong kosong tetapi meskipun demikian Ia tidak memaksa mereka untuk ‘menghibur dan menemani-Nya untuk bergumul bersama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pesan-firman-tuhan-dibalik-wabah-virus-corona-yang-kini-mendunia.jpg)