Jumat, 10 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Dampak Covid-19: Skenario Terburuk Eknomi 0 Persen

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkap skenario terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah penyebaran virus corona

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
(Tribunnews/Jeprima)
Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani melakukan rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (21/8/2019). Pada rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI tersebut Sri Mulyani membahas mengenai pengesahan DIM RUU Bea Materai dan BPJS Kesehatan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkap  skenario terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah penyebaran virus corona (COVID-19). Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di level 2,5-0%.

APBN Direalokasi Rp 62,3 Triliun: Antisipasi Wabah Corona

Hal itu diungkapkannya usai hasil rapat terbatas (ratas) mengenai kebijakan moneter dan fiskal menghadapi dampak ekonomi pandemi global covid-19 melalui video conference dikutip dari akun Sekretariat Negara, Jumat (20/3).

Banyak lembaga internasional yang sudah membuat skenario pelemahan pertumbuhan ekonomi global gara-gara corona."Di Kemenkeu buat beberapa seknario, katakan jika skenario durasi covid berapa lama, berapa bulan, dan kemungkinan terjadi pergerakan yang dipersempit dan jika terjadi lockdown," kata Sri Mulyani.

Skenario yang dibuat Kementerian Keuangan juga memasukkan aspek seperti perdagangan internasional, penurunan harga minta mentah dunia, penerbangan. Kemudian okupansi kamar hotel, ketersediaan bahan pokok dan kesehatan, hingga terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK), serta terjadi lokcdown.

Jika semua aspek terjadi,  ia memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di level 2,5% bahkan di level 0%. Skenario perdagangan internasional dengan RRT dan negara lain, dan penerbangan dan hotel dan konsumsi RT dan terutama konsumsi bahan pokok dan kesehatan . Kemungkinan terjadi disrupsi tenaga kerja dan pengurangan tenaga kerja.

"Jika masalah jauh lebih berat dan durasi COVID lebih dari 3-6 bulan dan terjadi lockdown dan perdagangan internasional drop di bawah 30%, sampai dengan tadi beberapa penerbangan drop 75% hingga 100%, maka skenario bisa menjadi lebih dalam pertumbuhan ekonomi bisa 2,5-0%," jelasnya.

Meski begitu, Sri Mulyani belum bisa menyampaikan secara pasti skenario yang pas untuk mengatasi kondisi virus corona saat ini seperti apa. Pemerintah masih tetap akan menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 4% melalui stimulus yang sudah diterbitkan, baik dari fiskal, moneter, maupun sektor keuangan. "Kami enggak berharap itu terjadi. Makanya, safety nett dan mendukung sektor usaha berjalan harus dilakukan. Ini fokus yang kami lakukan dengan Menko, BI, OJK untuk bisa bantu maksimal ke mereka," ungkapnya.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira menilai, ibu kota DKI Jakarta tidak perlu mengalami kebijakan lockdown sehubungan dengan makin masifnya serangan virus corona belakangan ini. Langkah lockdown akan berpotensi mengganggu pasokan kebutuhan pokok warga dan membuat harga bahan pangan menjadi tidak stabil. Akan terjadi ketidakstabilan harga pangan.

Karena, pasokan kebutuhan pokok yang ditemukan di pasaran ibu kota dipasok dari daerah, sehingga ini akan memicu kelangkaan pangan. "Soal ketersediaan pangan tentu tidak siap, karena sebagian besar kebutuhan pokok disumbang dari daerah luar Jakarta," ujar Bhima.

Jokowi Pesan 3 Juta Obat Antimalaria: Datangkan Penawar Corona dari China

Menurutnya, arus distribusi barang tentunya akan terganggu jika lockdown dilakukan. Terlebih saat ini mendekati momen bulan puasa (ramadan), di mana kelangkaan pasokan bisa memicu melonjaknya harga kebutuhan bahan pokok yang akan berdampak pada daya beli masyarakat. "Kelangkaan bahan pokok, khususnya jelang ramadan akan menyeret kenaikan harga. Inflasi tembus di atas 6 persen merugikan daya beli masyarakat se-Indonesia," kata Bhima.

Jokowi: Jangan Ragu Tegur yang Tidak Disiplin

Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) mengintruksikan para kepala daerah seluruh Indonesia dan lingkungan yang belum terinfeksi Covid-19 untuk menerapkan protokol kesehatan ketat agar mengurangi resiko penularan virus corona.

"Dan kepada daerah dan lingkungan yang telah ada terinfeksi, agar membantu saudara-saudara kita yang terinfeksi untuk bisa mengisolasi diri dan memberikan bantuan yang memadai," kata Presiden saat rapat kabinet  yang disampaikan melalui video conference di Istana Merdeka,  Jumat (20/3/2020).

"Dari hari ke hari kita telah melakukan langkah-langkah cepat dalam menangani penyebaran Covid-19 ini yang telah melanda lebih dari 180 negara di dunia. Saya tegaskan lagi bahwa kita harus saling mengingatkan untuk disiplin mengikuti protokol kesehatan dalam mengurangi penyebaran Covid-19," katanya.

Presiden mengingatkan semua pihak untuk tidak sungkan menegur masyarakat yang tidak disipilin dalam upaya mengurangi resiko penulaeran virus corona. "Jangan ragu untuk menegur seseorang yang tidak disiplin dalam menjaga jarak, tidak mencuci tangan, dan abai menjaga kesehatannya. Bagi yang terbukti positif terinfeksi Covid-19 atau menduga diri ada kemungkinan terinfeksi, segera isolasi diri dan menjaga kesehatan," imbau presiden.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved