Citizen Journalism
Menjadi Perempuan, Melepas Belenggu Kebebasan
Memilih untuk menghargai perjuangan R.A Kartini dan Dewi Sartika soal mengangkat dan membela perempuan Indonesia agar hidup lebih dihargai dan layak
Tapi kembali lagi, manusia ber-V yang memiliki akal seperti kita ini, selalu punya pilihan.
Memilih untuk menghargai perjuangan R.A Kartini dan Dewi Sartika soal mengangkat dan membela perempuan Indonesia agar hidup lebih dihargai dan layak, atau memilih kembali berkisah seperti buku karya Pramoedya Ananta Toer "Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer".
Saya tidak bermaksud menghakimi keputusan-keputusan atau tragedi-tragedi yang dialami oleh sesama perempuan perihal yang di atas.
Hanya saja saya ingin menuangkan rasa sesal atas banyaknya ketidaksadaran akan kekuatan yang sebenarnya kita (perempuan) miliki.
Saya berharap perempuan-perempuan yang sedang mengalami penindasan dalam bentuk fisik bahkan mental dalam hubungan apa pun (pernikahan, bepacaran, sosial) dapat melawan.
Berharap nasib yang mati-matian diubah para pejuang-pejuang perempuan pada masa lampau, bahkan aktivis-aktivis perempuan pada masa kini, dapat dilihat, dan dihargai lewat cara kita memilih dan membawa diri untuk menjadi PEREMPUAN (kuat, tangguh, berguna) yang sesungguhnya. (Melsandi Mongkareng)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/melsandi-mongkareng.jpg)