Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Siswa Bunuh Guru

2 Siswa SMK Pembunuh Pendeta Divonis Bersalah: Kami Bertobat & Akan Sekolah Alkitab Jadi Hamba Tuhan

kasus pembunuhan terjadi di halaman komplek SMK Ichthus, Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara pada Selasa (22/10/2019) sila

Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO/ISVARA SAVITRI
Hakim Pengadilan Negeri (PN) Manado menvonis dua siswa pembunuh Guru Agama SMK Ichthus Manado, Alexander Werupangkey pada Senin (2/12/2019). 

"Umur saja yang masih muda, tapi kelakuan mereka sudah seperti orang dewasa. Sudah tidak pantas dilindungi sistem peradilan anak," jelas Silvia.

Yuddi Robot selaku tim penasihat hukum korban, juga menyarankan agar dilakukan pengklasifikasian pelanggaran anak dalam sistem tersebut.

"Untuk membantu pemerintah melakukan revisi, kami rencananya akan membentuk forum diskusi lintas LSM supaya dilakukan pengklasifikasian hukuman bagi pelaku di bawah umur".

2 Pelaku Ingin Jadi Pendeta

Kedua tersangka yakni FL (16) dan OU (17), warga Kelurahan Koka Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, bahwa mereka merasa ketakutan saat akan mengikuti sidang putusan.

"Kami takut, takut melihat keluarga korban yang banyak menunggu di luar," ujar keduanya kepada wartawan tribunmanado.co.id.

Dikatakan kedua remaja itu, bahwa ketika bebas nanti, mereka berdua akan sekolah Alkitab.

"Kami akan bertobat dan sekolah Alkitab (sekolah pendeta) menjadi hambah Tuhan," aku keduanya.

Mereka berdua juga, mengaku sangat bersalah karena sudah menghilangkan nyawa guru mereka.

"Kami sudah salah dan kami siap jalani hukuman yang akan kami jalani," ujar mereka

Sebelumnya, kedua terdakwa mengaku wajah guru yang dibunuh mereka sering terbayang.

"Sejak masuk penjara di Polresta Manado, saya sering mimpi aneh. Saat tidur, seperti ada yang menyentuh saya. Tapi saat saya bangun, tidak ada orang disamping saya," ujar FL yang menikam almarhum Alexander Werupangkey (54) di PN Manado pada Selasa (26/11/2019) silam

Lanjutnya, saat terbangun, dirinya langsung berdoa, meminta maaf kepada almarhum lewat doa, setelah itu dirinya membaca Alkitab.

"Sejak masih di tahan di Polresta Manado, saya terus berdoa minta maaf, karena saya sudah salah, sampai sekarang, wajah bapak guru masih terbayang di pikiran saya," akunya dengan waja ketakutan.

Begitu juga pengakuan dari OU, bahwa wajah guru SMK Ichthus Manado yang dipukulnya, pernah terbayang di pikirannya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved