Bawa Bintang Kejora di Rumah Ibadah: Begini Aksi Mahasiswa Papua di Beberapa Daerah
Kondisi Papua dipastikan kondusif pada saat hari ulang tahun (HUT) Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1 Desember 2019.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Para mahasiswa juga mendukung keanggotaan United Liberation Movement Of West Papua (ULMWP) di Melanesia Spearhead Group, Pasific Island Forum dan memperjuangkan keanggotaan ULMWP di PBB.
“Kami juga meminta agar puluhan tahanan politik asal Papua dibebaskan dan kami juga minta agar aparat militer dan non militer ditarik dari tanah Papua,” kata para mahasiswa.
Dalam tuntutannya, para mahasiswa juga mengecam adanya dugaan pelanggaran HAM di tanah Papua yang dilakukan oleh aparat TNI Polri. Mahasiswa juga meminta adanya jaminan kebebasan informasi, berekspresidan berorganisasi bagi warga papua.
“Menyerukan kepada dunia internasional untuk membangun konsolidasi solidaritas perjuangan hak menentukan nasib sendiri bagi warga Papua,” kata mahaiswa.
Kapolresta Pulau Ambon, Leo Surya Nugraha Simatupang dan Dandim Pulau Ambon turun langsung ke lapangan untuk memantau demo. Dalam aksi tersebut, Kapolres sempat menghampiri pedemo dan memberikan waktu selama tiga menit untuk para mahasiswa membacakan tuntutannya.
Saat itu, suasana kembali memanas lantaran mahasiswa bersikeras untuk meminta aparat mengembalikan baterai megafon. Tak lama kemudian, aparat langsung membubarkan paksa para mahasiswa tersebut.
Di Yogyakarta Tanpa Bendera Bintang Kejora
Kurang lebih 100 mahasiswa di Yogyakarta memperingati kemerdekaan Papua Barat 1 Desember. Yang menarik dalam aksi simpatik kali ini, mereka tak mengibarkan bendera bintang kejora.
Di sekitar Bundaran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, mahasiswa yang sebagian besar bergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua berorasi di atas mobil pick up. Mereka membawa spanduk menolak diskriminasi, perlakuan rasis, kriminalisasi, dan penangkapan aktivis secara sewenang-wenang.
Alih-alih mengibarkan bendera bintang kejora, para mahasiswa ini melemparkan bubuk warna-warni mirip festival holi di India. "Aksi ini kampanye untuk masyarakat luas," kata Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Nasional, Jhon Gobai, Ahad, 1 Desember 2019. Sejumlah mahasiswa juga menarikan Wasisi, tari khas Papua.
Tari-tarian ini simbol protes mahasiswa Papua atas perlakuan diskriminasi dan rasis yang diterima kawan-kawan mereka di Malang dan Surabaya, Jawa Timur. Aksi simpatik juga berjalan melalui sejumlah pertunjukan musik, aksi teatrikal, dan pembacaan puisi bertema menolak penindasan terhadap Papua.
Jhon Gobai menyebutkan mahasiswa membuat strategi aksi yang bertujuan menjangkau dukungan masyarakat secara luas. "Kami tidak bahas pengibaran bintang kejora dan tidak mengibarkannya," kata dia.
Juru Bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua, Pranadipa Ricko Syahputra menyebutkan ada 16 tuntutan mahasiswa kepada pemerintah Indonesia. Tuntutan itu di antaranya menyerukan agar pemerintah Indonesia memberikan kebebasan menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi Papua Barat.
Selain itu, mereka mendesak agar polisi membebaskan aktivis pro Papua merdeka, Surya Anta dan semua tahanan. (tribunnetwork/git/fel/dtc/kps)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/aksi-mahasiswa-papua_6.jpg)