Penumpang Sriwijaya Pilih Naik Garuda
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan Sriwijaya Air dikabarkan kembali memanas. Bahkan Garuda mengumumkan
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan Sriwijaya Air dikabarkan kembali memanas. Bahkan Garuda mengumumkan bahwa maskapai penerbangan Sriwijaya Air bukan lagi bagian dari maskapai milik pemerintah itu. Hubungan yang tak harmonis itu berbuntut pada pelayanan Sriwijaya Air hingga ke daerah termasuk Kota Manado.
• Pilkada Tidak Langsung Setelah Tahun 2020
Puluhan calon penumpang dari Manado tujuan Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia ‘telantar’. Pantauan tribunmanado.co.id di Bandara Udara Sam Ratulangi Manado pada Jumat (8/11/2019), Customer Service Sriwijaya Air di Bandara Samrat dikerumuni calon penumpang.
Banyak di antara calon penumpang yang meminta refund (uang kembali) kepada pihak Sriwijaya Air. Satu di antaranya Adi Haryadi. Karyawan perusahan ritel di Jakarta ini mengaku berkunjung ke Manado selama 2 pekan. Ia ditugaskan dari perusahaannya.
Adi seharusnya berangkat ke Jakarta pada Rabu malam. Tapi penerbangan cancel. "Pada saat itu kami diberikan 2 pilihan, yaitu antara dicarikan maskapai lain atau refund, hanya 14 orang yang langsung dapat maskapai baru yang berangkat Kamis pagi," ungkapnya saat ditemui di Ruangan Customer Service Jumat sekira 12.00 Wita.
Kata dia, selain 14 orang, banyak yang memilih refund dan cari maskapai lain atau dibantu carikan oleh pihak Sriwijaya Air di hari lain. Tapi tidak ada kepastian, kapan mereka akan berangkat. Adi lebih memilih untuk refund. "Nggak jelas dan nggak ada kepastian. Agar bisa cepat pulang, mending cari sendiri maskapai lain," sahutnya.
Ia bahkan sampai menginap semalaman di bandara untuk menunggu kepastian maskapai. "Baru kali ini sih ngerasain nunggu dan nginap di bandara," ujar warga Bandung ini. Karena tidak ada kepastian dan delay tersebut, pekerjaannya sampai terbengkalai selama 2 hari. Tapi syukurnya, pihak kantor memaklumi hal tersebut. Sebelumnya, ia tidak tahu menahu bahwa cancel operation dari Sriwijaya Air juga terjadi di daerah lain. Ia memilih refund dan berencana mencari maskapai Garuda Indonesia.
• Gerindra Ajukan Empat Nama Cawagub DKI
Kantor Sriwijaya Air di Jalan Piere Tendean Manado terlihat tidak beroperasi pada Jumat kemarin. Menurut security di area Kantor Sriwijaya, kantor tersebut sudah tutup sejak Rabu lalu. "Hari Selasa (5/11) dia (Sriwijaya) masih buka," tutur sang petugas. Ia dan rekannya pun menyebutkan kalau sejak hari Rabu sore sejumlah pelanggan Sriwijaya Air berdatangan ke kantor tersebut untuk mempertanyakan tentang pembatalan penerbangan yang dilakukan pihak maskapai.
"Bahkan sempat ada satu orang bapak yang menunggu sangat lama karena mau melakukan refund," kata dia. Lanjutnya, kantor tersebut sempat buka pada Kamis sore, namun pintunya hanya terbuka sedikit sehingga ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Pada saat itu, seorang karyawati Sriwijaya yang mengenakan pakaian bebas (tidak berseragam Sriwijaya) tampak sedang melayani seorang ibu.
Hasil pantauan tribunmanado.co.id tampak 2 buah mobil Daihatsu Luxio berstiker Sriwijaya Air terparkir di depan kantor yang berada di blok 12A.
Satu mobil Luxio berwarna putih dengan plat B 1779 PYK berada persis di depan kantor sedangkan Luxio berwarna hitam dengan plat B 1090 PKR terparkir di seberangnya.
Menurut beberapa orang karyawan yang bekerja di sekitar Kantor Sriwijaya, mobil tersebut sudah terparkir sejak Rabu (6/11) dan tidak pernah terlihat keluar dari area parkir. Selain itu, terdapat satu buah mobil Luxio lain berwarna biru sedikit keabu-abuan dengan stiker Nam Air yang terparkir di dekat area parkir motor Kawasan Manado Town Square.
Harold, seorang Staf Humas Angkasa Pura menyebutkan kalau dirinya sempat mengantar surat ke Kantor Sriwijaya Air tersebut. Sriwijaya Air melakukan pembatalan sejumlah penerbangan sejak beberapa hari yang lalu, akibatnya sejumlah calon penumpang terpaksa batal terbang dan menuntut pengembalian uang (refund).
Calon penumpang Sriwijaya Air mengalami kesulitan. Seorang mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya, ia mendatangi Kantor Sriwijaya di Jalan Piere Tendean sekira pukul 14.00, namun tidak menemukan titik terang.
Sebagai calon penumpang, ia mengaku kecewa karena kantornya tutup dan tidak ada kejelasan terkait pembatalan tiket. "Saya bingung mau ke mana lagi, sekelas Sriwijaya masa pelayanannya seperti ini," ujar pria asal Ternate itu.
• Polri Pastikan Kasus Novel Baswedan Jalan Terus
Rencananya, ia akan melakukan perjalanan menggunakan Sriwijaya pada Jumat pukul 08.00 dari Bandara Samrat menuju Bandara Sultan Babullah Ternate. Ia mengaku memiliki urusan keluarga di Ternate pada sore hari. Akibatnya, ia terpaksa menunda keberangkatannya menjadi Sabtu sore dengan menggunakan kapal. "Saya sudah beli tiket kapal untuk besok," tutur pria berbadan besar itu.
Tiket penerbangan Sriwijaya Air itu dibelinya pada 3 November 2019 melalui situs tiket online, tiket.com seharga Rp 580 ribu. Pria yang datang ditemani oleh seorang perempuan itu mengaku akan terus berusaha untuk mencari solusi agar uangnya bisa kembali, bahkan kalau perlu sampai ke Sriwijaya Air yang ada di Ternate. "Ekspektasinya ya bisa kembali 100 persen, karena mereka yang membatalkan, bukan salah kita," tambahnya.
Ia berharap pihak Sriwijaya Air bisa lebih proaktif untuk menemui dan melayani komplain dari para calon penumpang. "Kami merasa dirugikan, setiap penumpang kan punya kebutuhannya masing-masing," katanya.
Saat ditanya apakah ia masih akan terus menggunakan jasa Sriwijaya, pria berbaju hitam itu menyebutkan tergantung dari solusi yang diberikan dari pihak maskapai. Jika uang yang dikembalikan tidak 100 persen maka ia tidak akan lagi menggunakan maskapai yang didominasi oleh warna biru merah ini.
Dilansir dari kompas.com, hal ini disebabkan karena kesepakatan antara Garuda Indonesia dan pemegang saham Sriwijaya Air kembali menemui jalan buntu.
Maskapai Harus Dapat Sanksi
Dr Charles Tangkau, Akademisi dari Unima mengatakan, penundaan dan pembatalan penerbangan dari maskapai Sriwijaya Air, merugikan publik. Persoalan ini awalnya dari internal antara manajemen Sriwijaya dan Garuda Indonesia, sehingga berdampak ke masyarakat sebagai pemakai jasa.
Kerugian tersebut dirasakan masyarakat, dengan adanya penundaan penerbangan, baik dari segi bisnis, ekonomi, urusan pemerintahan dan kepentingan pribadi.
Persoalan Sriwijaya ini, harus segera diselesaikan Kementrian Perhubungan RI agar tidak terjadi penundaan penerbangan lagi. Harus ada ganti rugi dari pihak maskapai Sriwijaya Air terhadap penumpang.
Pemerintah harus beri sanksi terhadap usaha angkutan udara sesuai ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan nomor 89 tahun 2015 tentang Penaganan Keterlambatan Penerbangan pada Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Terjadwal di Indonesia.
Direktur Jenderal Perhubungan harus memberikan penilaian. Dalam PM nomor 89 tahun 2015 pasal 16 sudah diatur sanksinya yakni berupa teguran tertulis apabila Badan Usaha Angkutan Udara Dalam Negeri mempunyai bobot penilaian di bawah 60 persen (tidak baik) berturut-turut selama 3
bulan.
Sanksi berupa pembekuan rute baru, pengurangan rute dan pencabutan izin usaha.Pihak maskapai juga wajib memberikan kompensasi kepada penumpang bila terjadi keterlambatan delay 30-60 menit kompensasi berupa minuman ringan. Tertunda 181 menit hingga 240 menit, kompensasi berupa minuman, makanan ringan (snack box) dan makanan berat (heavy meal). (ven/pas/ade)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/calon-penumpang-meminta-refund-di-maskapai-sriwijaya-air.jpg)