Tajuk Tamu

Kota Tinutuan, Satu Dalam Harmoni NKRI

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Nasional Media tahun 2019 kategori Artikel Opini Media Cetak/Siber (Individu). Tema Persatuan & Kerukunan Bangsa

Kota Tinutuan, Satu Dalam Harmoni NKRI
Intimewa
Megariza Runtuwene 

Hallo sobat pembaca :) apa kabar hari ini ? Semoga selalu bahagia, sejahtera, sukses dan diberkati.

Terima kasih kepada penggagas dan panitia Kompetisi Nasional Media, yang sudah menggagas kegiatan yang sangat spektakuler ini. Spektakulernya, karena kami, para konstestan, memperebutkan piala dari pak Jokowi (our beloved president) dan sekaligus bisa membuat karya berupa artikel opini.

FYI, selain terbit di blog ini (https://megarizaruntuwene.blogspot.com/), artikel ini juga terbit via online, di harian Tribun Manado. Karena itu, pada kesempatan ini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada harian Tribun Manado, especially ka Fine Wolajan, yang sudah mempersilahkan artikel opini ini terbit via online, di harian Tribun Manado, semoga artikel ini bisa bermanfaat positif, untuk semua pembaca.

Tema yang saya pilih adalah PERSATUAN DAN KERUKUNAN BANGSA. Awalnya saya bingung, harus mengangkat soal apa, tapi akhirnya, saya terinspirasi untuk mengangkat tentang KOTA TINUTUAN, SATU DALAM HARMONI NKRI.

Saya bangga, menyebut diri saya, sebagai orang Indonesia yang lahir dan besar di kota Manado, kota Tinutuan. Kota yang pada tahun 2017 lalu, meraih predikat sebagai kota paling Toleran di Indonesia, versi Setara Institute dan tahun 2018, Kota Manado disinyalir, menduduki peringkat ke-4 sebagai kota yang bertoleransi tinggi di NKRI ini, yang di publish di harian Tribun Pontianak pada Jumat, 07 Desember 2018. Tingginya Toleransi warga Kawanua (julukan untuk penduduk Manado), membuat pemandangan keseharian Manado, menjadi kota yang damai, penuh persatuan dan kerukunan.

Orang Manado, ketika membaca atau mendengar kata ''Tinutuan'' pasti akan senyum-senyum sendiri, entah karena sudah sangat kenal apa itu Tinutuan, atau sedang tersenyum karena megingat rasanya yang membuat lidah gagal move on. Tinutuan sendiri merupakan nama lain dari Bubur Manado, dimana Tinutuan ini terdiri atas aneka varian campuran sayuran hijau, seperti sayur kangkung, sayur gedi, sayur bayam, kemudian dicampur singkong rebus, dicampur jagung, diberikan mie sedikit dan bubur sedikit, kemudian dimasak bersama dan biasanya dimakan bersama dabu-dabu (sambal khas Manado).

Tinutuan, terdiri atas aneka campuran, tapi justru menjadi sangat lezat dan menjadi makanan legenda di Manado, selain sambal (rica) roa dan cakalang fufu. Mengapa saya tertarik untuk mengangkat pembahasan tentang Tinutuan? karena tinutuan layak disebut sebagai miniatur Manado dan Indonesia, mengapa tinutuan sangat layak dinobatkan sebagai miniatur Manado dan Indonesia? jawabannya cukup simple, karena walaupun terdiri atas berbagai macam campuran, tapi Tinutuan tetap dapat memberikan rasa yang nikmat dan tampilan yang indah.

Begitupun dengan Kota Manado, yang menurut Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Manado tahun 2018, tercatat jumlah penduduk kota Manado mencapai angka 527.007 jiwa, terdiri atas 266.265 penduduk laki-laki dan 260.742 penduduk perempuan. Dengan keberagaman Agama, menurut data yang dikeluarkan kantor wilayah kementerian Agama provinsi Sulawesi Utara, pada tahun 2015 silam, pemeluk Agama Islam di Manado sebanyak 37.78%, Kristen (Protestan) sebanyak 54.31%, Katolik sebanyak 6.91%, Hindu sebanyak 0.43%, Budha sebanyak 0.42% dan Konghucu sebanyak 0.15%.

Dengan keberagaman suku, Manado menjadi cukup sensasional, karena hampir semua suku di Indonesia, terkumpul di Manado. Adapun mayoritas penduduk Manado saat ini adalah suku Minahasa, yang merupakan suku asli Manado. Karena budaya warga Manado yang sangat toleran, maka para pendatangpun menetap dengan nyaman di kota Manado. Kemudian suku-suku lain yang turut membaur sebagai satu Kawanua adalah suku Bantik, suku Sangir, suku Gorontalo, suku Mangondow, suku Arab, suku Babontehu, suku Talaud, suku Tionghoa, suku Siau, kaum Borgo, suku Jawa, suku Batak, suku Makassar, suku Minangkabau, suku Toraja, suku Aceh dan lainnya yang belum sempat diuliskan.

Jika bermacam-macam suku telah bersatu dikota Manado, artinya bermacam-macam budaya juga telah melebur bersama di kota Manado. Bahkan masing-masing suku memiliki bahasa daerahnya, tapi semua suku tetap paham satu bahasa yang digunakan semua warga kawanua, satu bahasa yang 'beken' dan kawanua menyebutnya dengan bahasa pasar, selain bahasa pasar ada juga satu bahasa yang wajib dan sakral di Manado, tentunya bahasa Indonesia.

Halaman
123
Editor: Finneke Wolajan
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved