Tajuk Tamu

Mujiburrahman: Sambutan dan Kekuasaan

Hubungan sambutan dan kekuasaan dapat dilihat dari urutan orang yang tampil berbicara. Biasanya, dimulai dari yang lebih rendah hingga yang tertinggi.

Mujiburrahman: Sambutan dan Kekuasaan
Ilustrasi 

Oleh:
Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dalam budaya kita, salah satu ‘tugas’ pejabat atau pimpinan adalah menyampaikan sambutan atau pengarahan. Semakin tinggi jabatan orang yang memberi sambutan, semakin terasa berwibawa pula sebuah acara.

Kadangkala, demi merangkul banyak pihak, deretan orang yang memberi sambutan cukup panjang. Rupanya, sambutan tidak sekadar pidato, melainkan penghadiran kekuasaan.

Hubungan sambutan dan kekuasaan dapat dilihat dari urutan orang yang tampil berbicara. Biasanya, dimulai dari yang lebih rendah hingga yang tertinggi.

Mungkin maksudnya, bawahan melaporkan apa yang sudah atau akan dikerjakan, sedangkan atasan tinggal mengarahkan.

Mungkin pula, sebagai pembicara terakhir, pimpinan puncak bisa menanggapi apa yang disampaikan pembicara sebelumnya.

Kekuasaan juga tampak pada pengalihan wewenang dalam menyampaikan sambutan. Jika seorang pimpinan berhalangan, dialah yang berwenang untuk menunjuk orang yang mewakilinya.

“Saya menyampaikan salam dari pimpinan kami, dan permohonan maaf karena beliau tidak bisa hadir. Saya akan bacakan sambutan beliau,” kata yang mewakili. Di sini, si wakil hanyalah penyambung lidah.

Karena banyaknya kegiatan dan masalah yang dihadapi, seringkali seorang pemimpin dibantu oleh anak buahnya membuat sambutan.

Pemimpin tinggal memeriksa apakah naskah yang dibuat sudah sesuai atau tidak. Jika sudah sesuai, nanti tinggal dibacakan saja. Cara ini lebih efisien dan aman.

Halaman
123
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved