Editorial: Kita dan Sampah

Bukan pemandangan langka, menyaksikan orang dari mobil enteng saja buang sampah.

Editorial: Kita dan Sampah
tribunmanado.co.id/Vendi Lera
Belum Miliki TPA, Warga Jadikan Jalan Tempat Sampah 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Di awal tahun 2019, Kota Manado diberikan gelar sebagai satu di antara kota dengan tingkat kebersihan paling rendah oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Menurut Direktur Pengelolaan Sampah Ditjen PSLB3 Kementerian LHK Novrizal Tahar, kota ini mendapatkan penilaian rendah karena pengelolaan sampah. Dalam penghargaan ini ada penilaian terhadap nilai fisik kota, pengelolaan sampah, serta penilaian terhadap TPA.

“Sistem TPA sebagai sistem utama yang menampung hilir sampah Kota Manado tidak berfungsi dengan baik. Makanya saya agak confused juga saat Kompas menempatkan Manado sebagai salah satu kota terbaik IKCI 2018,” ujar Novrizal.

Sistem operasional TPA di Manado, lanjut Novrizal, masih menggunakan open dumping dengan kondisi yang relatif buruk. Sementara salah satu penilaian dalam Adipura adalah operasional TPA harus menerapkan sistem sanitary landfill. Kenapa teorinya TPA itu harus operasionalnya sanitary landfill, karena untuk menghindari berkembangnya vektor penyakit, maka land covering TPA harus dilakukan setiap hari, ini sepanjang tahun terbuka TPA-nya. Selain itu, kapasitas di TPA tersebut juga hampir penuh sehingga mengganggu pengangkutan sampah.

Isu kota terkotor juga muncul saat lokakarya Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), Rabu (21/8/2019).

Menurut para pemateri, kenyataan Manado memang kotor. Padahal ada begitu banyak petugas sampah tapi masalah sampah seperti tidak terselesaikan.

Broery Bangun, perwakilan Bappeda Manado yang hadir di lokakarya tersebut menyampaikan terima kasih atas isu Manado kota terkotor yang disorot kembali. Pemkot Manado sebenarnya sudah menjadikan kebersihan sebagai prioritas di tahun terakhir ini. Ia mencontohkan dari sisi anggaran. Pemkot cukup besar menganggarkan Rp 60 miliar untuk masalah sampah.

Pertanyaan sekarang dengan uang sebesar itu, kenapa masih ada sampah? Ternyata jawabannya adalah sikap warga yang masih suka buang sampah sembarangan.

Bukan pemandangan langka, menyaksikan orang dari mobil enteng saja buang sampah.

Ada juga kebiasaan warga ketika hujan turun, warga akan ramai-ramai membuang sampah ke saluran air. Sampai muncul ungkapan ‘habis hujan terbitlah sampah’.

Perda sampah yang dikeluarkan oleh Pemkot Kota Manado pun tak ampuh membuat efek jera kepada warga yang buang sampah sembarangan. Selain hukumannya yang dianggap terlalu ringan, perda tersebut saat ini juga seperti sudah mati atau tidak jalan.

Penegakan hukum faktor penting untuk memberi efek jera, hukuman berlaku untuk orang dewasa, sementara anak-anak diberi pembinaan di sekolah maupun di rumah. (*)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Fransiska_Noel
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved