Tajuk Tamu

dr Ardiansa Tucunan : ‘Germas’ Sebuah Retorika atau Fakta Kesehatan?

Jika negara ingin menyehatkan masyarakatnya dengan berbagai program yang dicanangkannya, maka negara harus menyiapkan infrastruktur pendukung.

dr Ardiansa Tucunan : ‘Germas’ Sebuah Retorika atau Fakta Kesehatan?
ISTIMEWA
Germas 

Oleh:
dr Ardiansa Tucunan MKes
Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsrat Manado

TRIBUNMANADO.CO.ID - Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dicanangkan pemerintah pusat lewat Kementerian Kesehatan tahun 2016 lalu, yang harus ditindaklanjuti oleh setiap daerah di Indonesia untuk dijalankan adalah sebuah gerakan moral dari perspektif kesehatan yang bertujuan untuk membangun kesadaran berperilaku hidup sehat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang dimulai dari dalam keluarga.

Germas ini adalah suatu gerakan massal yang terdiri dari komponen-komponen antara lain melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksa kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan dan menggunakan jamban.

Fokusnya ada pada 3 kegiatan utama yaitu melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, mengkonsumsi buah dan sayur, dan memeriksa kesehatan secara rutin.

Semua upaya kesehatan ini hanya bisa terlaksana dan didukung oleh masyarakat jika ada kolaborasi yang baik antara para stakeholder yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat.

Jika negara ingin menyehatkan masyarakatnya dengan berbagai program yang dicanangkannya, maka negara harus menyiapkan infrastruktur pendukung.

Sebagai contoh, jika fokus pada 3 program utama yaitu kegiatan seperti aktivitas fisik, maka pemerintah perlu menyiapkan tempat-tempat representative untuk olahraga dan berkumpulnya masyarakat; jika pemerintah menganjurkan konsumsi sayur dan buah, maka dinas dan swasta terkait perlu melakukan pengadaan secara kontinuitas sayur dan buah sehat yang hendak dikonsumsi publik; dan jika pemerintah menginginkan ada upaya secara rutin publik memeriksa kesehatannya, hendaknya pemeriksaan itu tidak menjadi mahal bagi mereka dan aksesibilitasnya perlu mendapat perhatian.

Artinya, program-program dalam Germas itu hanya bisa dilakukan jika ditopang dengan semua upaya yang difaktualkan, bukan hanya dengan masuk pada ruang publik lewat selebaran dan kampanye serta pemasangan baliho dan seremoni yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah.

Berkaca dari beberapa tahun lalu, setiap pencanangan yang dilakukan pemerintah seperti Indonesia Sehat 2010 yang dinyatakan gagal dicapai, MDG’s 2015 yang juga tidak mampu dicapai; maka penting sekali bagi pemerintah untuk kembali membuat terobosan, tidak hanya bermain pada level retorika yang menghipnotis masyarakat seolah program ini adalah program spektakuler, tapi membuatnya menjadi sebuah fakta konkret, dengan betul-betul menyeriusi ini pada level yang berbeda dengan melibatkan lintas sektor.

Saya pikir, jika program pemerintah ingin menyehatkan masyarakat hanya menggunakan pola pikir kesehatan, maka kita akan menuai kegagalan dalam implementasinya.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved