Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Teror Bom Surabaya

Setahun Berlalu Tragedi Bom Bunuh Diri Guncang Surabaya, Sakit Sosial Terpa Keluarga Pelaku

Satu tahun berlalu Teror Bom Surabaya, beginilah nasib anak-anak pelaku bom bunuh diri yang mengguncangkan warga Surabaya bahkan se-Indonesia.

Editor: Frandi Piring
TribunJambi.com
Lokasi terjadinya ledakan Bom di Kawasan Gereja di Surabaya 

Saat ditanya soal kabar ini, B tak banyak bicara.

Dia juga mengatakan, tak tahu-menahu soal kabar kembalinya anak Tri Ernawati.

Tetapi, bila anak tersebut benar dikembalikan ke keluarga, dirinya akan menerimanya.

"Saya tidak tahu kabar itu. Bila dikembalikan kami akan menerima dan merawatnya," pungkasnya.

Sementara itu, anak-anak pasangan Anton Febrianto (47)- Puspitasari (47), juga termasuk yang dirawat kemensos.

Saat itu, tepatnya pada 13 Mei 2018, bom yang disiapkan untuk bunuh diri itu tiba-tiba  meledak kamar nomor 2 Blok B lantai 5 Rusunawa Wonocolo, Taman, Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo.

Dalam peristiwa itu pasangan Anton Febrianto-Puspitasari dan seorang anaknya tewas terkena ledakan bom ransel. Sedangkan tiga anak Anton berhasil diselamatkan.

Lokasi terjadinya ledakan Bom
Lokasi terjadinya ledakan Bom (TribunJambi.com)

Baca: Berikut Pekerjaan Para Otak di Balik Serangan Teror Bom Surabaya

Butuh keluarga

Direktur Rehabilitasi Anak Kementerian Sosial (Kemensos) Kanya Eka Santi mengatakan,  tujuh anak pelaku bom Surabaya terdiri dari empat anak perempuan dan tiga anak laki-laki yang usianya bervariatif mulai dari 7 tahun, 8 tahun, 10 tahun, 13 tahun dan 14  tahun.

Mereka telah diasuh Kemensos selama 12 bulan.

Mereka selalu didampingi petugas bersama neneknya lantaran anak-anak membutuhkan sosok kehadiran keluarga.

"Karena orangtuanya sudah meninggal maka dari itu kami menghadirkan neneknya dari awal pengasuhan di Kemensos," ujar Kanya Eka Santi.

Kanya menjelaskan, sebetulnya upaya Kemensos melalui rehabilitasi sosial adalah usaha yang dilakukannya  secepat mungkin untuk mengembalikan anak pada keluarga dan komunitas lingkungannya.

Meski demikian, masalahnya komunitas di mana anak-anak ini tinggal itu juga belum sepenuhnya menerima. 

Sehingga pihaknya khawatir potensi akan ada masalah baru.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved