Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Biografi Tokoh Dunia

Pu Yi, Kaisar Terakhir China

Pu Yi atau dipanggil Henry Puyi ataupun Puyi merupakan kaisar terakhir China yang berasal dari Dinasti Qing yang memerintah 1908 hingga 1912.

Editor:
tubagbohol.mikeligalig.com
Pu Yi, Kaisar Terakhir China 

Dia membenci para "ibunya" itu karena mereka menjauhkannya dari ibu kandungnya Putri Guwalgiya. Dia terutama membenci Longyu yang telah mengusir Wen-Chao.

2. Diturunkan secara Paksa

Pada 10 Oktober 1911, garnisun di Wuhan melakukan pemberontakan sehingga menyebar ke seluruh kawasan Sungai Yangtze meminta Dinasti Qing turun.

Jenderal Yuan Shikai, perwira terkuat kekaisaran, dikirim oleh pengadilan untuk memadamkan Revolusi Xinhai. Tapi dia gagal.

Sebabnya, pada 1911 rakyat sudah malas membela Dinasti Qing dan berbalik melawannya karena menganggap dinasti itu telah kehilangan Mandat Surga.

Pangeran Chun bertindak sebagai Putra Mahkota hingga 6 Desember 1911. Setelah itu, Longyu mengambil alih kekuasaan karena revolusi yang makin meluas.

12 Februari 1912, Longyu menerbitkan Dekrit Kekaisaran Kaisar Xuantong, dan mengakhiri kekuasaan Dinasti Qing sejak 1644.

Melalui perantara Yuan Shikai yang menjadi perdana menteri, Puyi menandatangani Artikel Penanganan Kaisar Qing Setelah Turun Tahta di 26 Desember 1914.

Dikatakan bahwa pasca-pendirian Republik China, Puyi masih diizinkan untuk tinggal di Kota Terlarang sementara, sebelum pindah ke Istana Musim Panas.

Setiap tahun, dia bakal mendapat subsidi dari pemerintah republik sebesar 4 juta tael perak. Namun, subsidi itu nyatanya tak pernah dibayar.

3. Upaya Restorasi yang Gagal dan Pengusiran

Di 1917, panglima kuat bernama Zhang Xun mencoba mengembalikan kembali kekaisaran dengan melaksanakan Restorasi Manchu.

Zhang memerintahkan pasukannya untuk mempertahankan que, atau gaya rambut Dinasti Qing, untuk memperlihatkan loyalitas kepada kaisar.

Usaha mereka terhenti setelah republik mengirim pesawat tempur yang menjatuhkan bom di Kota Terlarang, dan menyebabkan kerusakan kecil.

Kebijakan Beijing merupakan peristiwa pengeboman pertama di Asia Timur. Upaya tersebut gagal selain karena sikap oposisi, juga intervensi panglima lain, Duan Qirui.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved