Tajuk Tamu

High Order Thinking Skills, Suatu Latihan untuk Keterampilan Hidup

De facto, banyak orang kecil, tidak sampai lulus sekolah, atau tidak sampai mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, bisa sukses besar dalam hidup.

High Order Thinking Skills, Suatu Latihan untuk Keterampilan Hidup
ISTIMEWA
Stief A. Walewangko, S.Fils, M.Pd 

Menurut Bloom (Anderson & Krathwohl, 2010:101 – 102) dari keenam kategori proses kognitif tersebut, ranah kognitif C4 (aplikasi), C5 (analisis), C6 (mencipta) merupakan high thinking level atau high thinking skills (HOTs).

Dengan kata lain, High Order Thinking Skills merupakan kemampuan untuk menghubungkan, memanipulasi, dan mengubah pengetahuan serta pengalaman yang sudah dimiliki secara kritis dan kreatif dalam menentukan keputusan untuk menyelesaikan masalah pada situasi baru.

Guru wajib mengelolah pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi.

Ada beberapa model pembelajaran yang secara terang-benderang menerapkan level HOTs pada tingkat aplikasinya.

Beberapa model pembelajaran tersebut antara lain: pembelajaran berbasis proyek (project based learning), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), pembelajaran dengan pendekatan penyelesaian masalah (problem solving), dan model pembelajaran menemukan (discovery/ inquiry).

Di samping itu, guru perlu merancang pembelajaran yang kolaboratif, melibatkan semua siswa secara aktif.

Hal ini dibuat untuk melatih kerja sama, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berargumentasi, serta kemampuan mengendalikan emosi, yang sangat dibutuhkan terutama dalam penyelesaian masalah, baik di kelas maupun di luar kelas.

Dan akhirnya, guru perlu merancang soal-soal ujian dan penilaian dengan HOTs.

Soal-soal HOTs bukan berarti soal yang sulit, redaksinya panjang dan berbelit-belit sehingga banyak membuang banyak waktu membacanya dan sekaligus memusingkan siswa, tetapi soal tersebut disusun secara proporsional dan sistematis untuk mengukur Indikator Ketercapaian Kompetensi (IKK) secara efektif serta memiliki kedalaman sehingga siswa pun terangsang untuk menjawab bukan hanya “menghitung kancing” atau menjawab secara asal-asalan.

Jawaban soal uraian disamping tertutup juga dapat bersifat terbuka agar siswa mampu mengonstruksi jawabannya dengan bebas.

Halaman
123
Penulis: David_Manewus
Editor: Alexander Pattyranie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved