Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Minggu

Kasih Tanpa Batas, 'Torang Samua Basudara'

Hidup dalam perbedaan adalah hal yang wajar dalam kehidupan kita sebagai masyarakat yang majemuk.

Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie
ISTIMEWA
Pdt Marco Wagey STh MTh 

Orang Yahudi beranggapan bahwa orang Samaria bukan lagi pemilik hak waris kerajaan Allah itu, sekalipun mereka sama-sama menyembah Tuhan, tapi perkawinan campur dari orang Samaria membuat mereka dipandang tidak layak.

Menginjak daerah orang Yahudi pun mereka tidak dilayakkan.

Yesus memusatkan perhatian kepada apa yang dilakukan oleh orang Samaria ini.

Sekalipun mereka dianggap tidak layak, akan tetapi apa yang dilakukan oleh orang Samaria ini adalah suatu bentuk belas kasih yang tanpa batas.

Seorang Imam, Seorang Lewi yang kesehariannya bergaul di Bait Suci tapi mereka tidak mempraktikkan kasih itu.

Yesus sengaja memberi contoh imam dan orang Lewi ini untuk mengkritik kebiasaan ahli taurat yang selalu bergaul di Bait Suci tapi tidak melakukan kehendak Allah.

Memang tidak disebutkan bahwa orang yang ditolong oleh orang Samaria itu adalah orang Yahudi, akan tetapi jarak perjalanannya dari Yerusalem ke Yerikho menunjukkan bahwa dia adalah orang Yahudi.

Hal ini memberi arti bahwa mereka yang dianggap tidak layak menolong mereka yang menganggap diri layak.

Inilah suatu bentuk bukti kasih yang tanpa batas yang memiliki hidup yang kekal itu.

Selain itu Yesus mau mengatakan bahwa hal warisan ilahi itu tidak hanya dikhususkan bagi orang Yahudi tetapi bagi semua orang yang mau bertobat dan melakukan kasih itu.

Oleh karena itu, untuk memahami dan menerima perbedaan itu, belajarlah melakukan kasih yang tanpa batas itu.

Kita tidak akan dilayakkan jika kita selalu berpikir lebih dari orang lain dan mengesampingkan orang lain.

Ungkapan bijak mengatakan 'adalah baik mengasihi orang yang mengasihi kita, tapi jauh lebih baik mengasihi mereka yang tidak mengasihi kita' dan itulah kasih tanpa batas itu.

Selain itu kita harus belajar bahwa kasih bukan berarti membiarkan yang salah tapi kasih itu tujuannya membenarkan yang salah.

Jika kita mengaku bahwa kita adalah ahli waris kerajaan Allah atau keselamatan itu, jangan pernah berhenti hidup pada kasih yang tanpa batas sekalipun kita berbeda.

Amin.

(Tribunmanado.co.id/Ferdinand Ranti)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved