Renungan Minggu
Kasih Tanpa Batas, 'Torang Samua Basudara'
Hidup dalam perbedaan adalah hal yang wajar dalam kehidupan kita sebagai masyarakat yang majemuk.
Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie
Renungan Minggu oleh:
Pdt Marco Wagey STh MTh
Lukas 10 : 25 – 37
HIDUP dalam perbedaan adalah hal yang wajar dalam kehidupan kita sebagai masyarakat yang majemuk.
Akan tetapi kadang kala kenyataan membuat kita tidak bisa menerima perbedaan ini.
Salah paham, gesekan, bahkan perselisihan adalah persoalan yang membuat kehidupan bersama kita tidak harmonis lagi.
Kita mengingat semboyan orang Manado yaitu 'Torang Samua Basudara', ataupun semboyan pemersatu bangsa 'Bhinneka Tunggal Ika' menggambarkan cita cita kehidupan bersama yang harmonis.
Kita sebenarnya punya impian untuk hidup dalam kebersamaan itu tapi kita kadangkala terbatas pada apa yang namanya 'memahami dan menghargai perbedaan itu'.
Dalam Lukas 10 : 25 – 37, secara tidak langsung Yesus sebenarnya mau mengkritik paradigma orang Yahudi yang mengkhususkan bangsa mereka sebagai ahli waris kerajaan Allah itu.
Para ahli taurat mau mencobai Yesus dengan mengemukakan pertanyaan jebakan, 'Guru apa yang harus kami perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?'.
Para ahli taurat memahami bahwa kehidupan yang kekal itu adalah warisan ilahi yang dikhususkan bagi orang Yahudi, sehingga orang-orang di luar Yahudi tidak memiliki hak untuk warisan tersebut.
Mereka beranggapan bahwa jawaban Yesus akan sama seperti apa yang mereka pikirkan, tetapi nyatanya Yesus menjawab berbeda dengan yang mereka pikirkan.
Yesus memulai dengan mengemukakan pertanyaan balik kepada ahli taurat mengenai apa yang tertulis dalam Hukum Taurat (karena mereka adalah orang orang yang berpegang pada Taurat).
Jawaban mereka pada ayat 27, 'Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri', adalah dasar jawaban Yesus untuk mengkritik mereka.
Yesus memberi perumpamaan mengenai orang Samaria yang murah hati.
Mengapa orang Samaria?
Orang Yahudi beranggapan bahwa orang Samaria bukan lagi pemilik hak waris kerajaan Allah itu, sekalipun mereka sama-sama menyembah Tuhan, tapi perkawinan campur dari orang Samaria membuat mereka dipandang tidak layak.
Menginjak daerah orang Yahudi pun mereka tidak dilayakkan.
Yesus memusatkan perhatian kepada apa yang dilakukan oleh orang Samaria ini.
Sekalipun mereka dianggap tidak layak, akan tetapi apa yang dilakukan oleh orang Samaria ini adalah suatu bentuk belas kasih yang tanpa batas.
Seorang Imam, Seorang Lewi yang kesehariannya bergaul di Bait Suci tapi mereka tidak mempraktikkan kasih itu.
Yesus sengaja memberi contoh imam dan orang Lewi ini untuk mengkritik kebiasaan ahli taurat yang selalu bergaul di Bait Suci tapi tidak melakukan kehendak Allah.
Memang tidak disebutkan bahwa orang yang ditolong oleh orang Samaria itu adalah orang Yahudi, akan tetapi jarak perjalanannya dari Yerusalem ke Yerikho menunjukkan bahwa dia adalah orang Yahudi.
Hal ini memberi arti bahwa mereka yang dianggap tidak layak menolong mereka yang menganggap diri layak.
Inilah suatu bentuk bukti kasih yang tanpa batas yang memiliki hidup yang kekal itu.
Selain itu Yesus mau mengatakan bahwa hal warisan ilahi itu tidak hanya dikhususkan bagi orang Yahudi tetapi bagi semua orang yang mau bertobat dan melakukan kasih itu.
Oleh karena itu, untuk memahami dan menerima perbedaan itu, belajarlah melakukan kasih yang tanpa batas itu.
Kita tidak akan dilayakkan jika kita selalu berpikir lebih dari orang lain dan mengesampingkan orang lain.
Ungkapan bijak mengatakan 'adalah baik mengasihi orang yang mengasihi kita, tapi jauh lebih baik mengasihi mereka yang tidak mengasihi kita' dan itulah kasih tanpa batas itu.
Selain itu kita harus belajar bahwa kasih bukan berarti membiarkan yang salah tapi kasih itu tujuannya membenarkan yang salah.
Jika kita mengaku bahwa kita adalah ahli waris kerajaan Allah atau keselamatan itu, jangan pernah berhenti hidup pada kasih yang tanpa batas sekalipun kita berbeda.
Amin.
(Tribunmanado.co.id/Ferdinand Ranti)