Rp 1,76 Triliun Duit Tiga Pilar Mengalir ke Tujuh Perusahaan
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) akhir pekan lalu akhirnya memberhentikan
Total
Rp 1,76 triliun
Sumber: Ditjen AHU Kemkumham, reportase KONTAN
Namun Joko membela diri, transaksi uang muka Jaya Mas tersebut terkait rencana initial public offering (IPO) bisnis beras AISA di 2017. Dana IPO rencananya bakal digunakan untuk mengakuisisi Jaya Mas. Tapi, IPO kemudian terhambat kasus beras premium AISA.
Joko sempat mengusulkan mengambilalih segmen beras melalui Jom. Namun rencana ini ditolak pemegang obligasi. Alhasil, Jaya Mas kembali masuk ke dalam buku AISA.
"Maka bisa dilihat dalam setiap usulan kami kepada calon pembeli, selalu ada Jaya Mas yang dimasukan dalam paket penjualan," tutur Joko dalam keterangan tertulis yang juga diperoleh KONTAN.
Lukas Setia Atmaja, Financial Expert Universitas Prasetya Mulya, menilai, dalam kasus AISA ada informasi yang kurang transparan. Padahal, transparansi merupakan salah satu elemen penting penerapan good corporate governance (GCG).
"Karena transparansi sifatnya memberikan perlindungan pada investor," ujar Lukas. Jika ditemukan pelanggaran, kasus ini juga bisa dibawa ke ranah hukum.
Tiga Pilar di persimpangan jalan
Kondisi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) tengah kritis. Selain kondisi keuangan perusahaan yang kritis, sengkarut juga tengah menerpa internal perusahaan.
Pasca kasus hukum yang membelit lini bisnis beras pada pertangahan 2017 lalu, Tiga Pilar belum mampu bangkit dari keterpurukan. Keputusan Tiga Pilar untuk menghentikan lini bisnis beras pada akhir tahun lalu berdampak negatif terhadap kinerja Tiga Pilar.
Pada 2017 lalu, kinerja Tiga Pilar turun drastis. Per 31 Desember 2017, pendapatan Tiga Pilar hanya Rp 4,29 triliun, turun 24,8% dibandingkan periode sama tahun lalu.
Sementara itu, beban pokok penjualan pada tahun lalu hanya turun 11,7% menjadi Rp 4,3 triliun. Tiga Pilar juga harus menanggung beban usaha sebesar Rp 916,7 miliar. Di sisi lain, beban keuangan meningkat hampir 10 kali lipat menjadi Rp 314,5 miliar.
Alhasil, hingga akhir 2017, AISA menderita rugi bersih sebesar Rp 551,9 miliar. Padahal, per 31 Desember 2016, AISA masih mencetak laba bersih senilai Rp 581 miliar.
Dalam keterbukaan informasi pada Juni lalu, Direktur Utama Tiga Pilar Stefanus Joko Mogoginta mengakui, kondisi keuangan perusahaan tidak sekondusif dahulu sebelum ada persoalan bisnis beras. Meski begitu, Joko berusaha meyakinkan bahwa perusahaan pada akhirnya akan bersinar kembali setelah hal pokok permasalahan dibereskan.
Toh, sulit untuk meyakini bahwa kinerja Tiga Pilar akan kembali bersinar dalam waktu dekat. Malah, kondisi keuangan Tiga Pilar makin terpuruk sehingga gagal membayar bunga utang. Pada Juli ini, Tiga Pilar gagal membayar bunga atas tiga surat utang yang jatuh tempo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tiga-pilar-sejahtera_20180730_232230.jpg)