Ketika Ingin Menjadi Dokter, Tuhan Mempercayakan Saya Jadi Pendeta
Saya merasakan beratnya menjadi orang sakit. Membutuhkan banyak biaya serta menghabiskan banyak waktu untuk berobat.
Oleh
Belly F Pangemanan MTh
Pendeta
MANUSIA selalu memiliki rencana. Memimpikan sesuatu yang terbaik sudah jadi sikap dasar semua orang. Bercita-cita juga menjadi harapan setiap orang agar terwujud.
Seperti saya, memiliki keinginan menjadi dokter sudah sejak dini ada pada diri saya.
Keinginan menjadi dokter berawal saat saya sering sakit dan masuk keluar rumah sakit serta memerlukan perawatan intensif.
Hal ini membuat saya merasakan beratnya menjadi orang sakit. Membutuhkan banyak biaya serta menghabiskan banyak waktu untuk berobat.
Saya pun rindu menjadi dokter, membantu dan mengobati orang sampai sembuh dari sakit.
Namun, itulah manusia. Kita hanya bisa berencana, namun Tuhan yang menentukan.
Tuhan menuntun saya menjadi seorang pendeta, di mana saya dituntut menjadi pelayan Tuhan yang baik dan mampu memberikan berbagai kebenaran Firman Tuhan.
Tugas ini saya sadari sangat berat, tapi saya yakin Tuhan yang menentukan dan memilih saya. Karenanya, saya yakin pasti akan diberi jalan.
Awalnya, setelah menamatkan pendidikan Teologi saya tidak langsung jadi pendeta tapi mengabdikan diri dulu sebagai guru honorer di SMP Kristen Kembes.
Setelah itu, baru saya mendaftarkan diri sebagai pendeta.
Berbagai proses saya lalui sampai saya menyelesaikan studi S2 di Pasca Sarjana UKIT. Saat ini, saya bertugas sebagai pendeta di Jemaat GMIM Efrata Ratatotok.
Menjadi pendeta bukanlah pekerjaan mudah. Mengutip pernyataan Plato, "Siapakah yang senang kalau harus melayani orang?"
Melayani memang membutuhkan keseriusan dan komitmen. Sebab, yang dilayani bukanlah benda mati, melainkan manusia yang berpikir dan berperasaan.
Itu sebabnya, bersikap menghamba seperti yang telah diteladankan Tuhan Yesus, sangat diperlukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pendeta_20180117_001624.jpg)