Sabtu, 6 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Perempuan-perempuan Pala dari Dramaga

Pisau di tangan kanan Sri Herawati bergerak cepat menyisit kulit buah pala. Hanya dalam beberapa menit, pala sudah bersih.

Tayang:
Editor:
citizen reporter/yulia adiningsih
Perempuan pengupas pala di Desa Dramaga, Kabupaten Bogor. 

Nia bercerita, hampir semua perempuan di Desa Dramaga, khususnya di RT 4 RW 3, menjadi buruh pengupas kulit pala.

“Depan, belakang, tetangga pada ngupas pala,” kata ibu rumah tangga ini.

Sabtu siang itu, Nia berada di kediaman Sri bersama Hindun, Lasmanah, Yanti dan seorang gadis sedang mengupas pala dengan jari jempol dan telunjuk berbalut plester luka.

Ya, bukan hanya ibu rumah tangga yang menjadi pengupas kulit pala, gadis remaja juga ada.

Pengupas buah pala di Desa Dramaga kian banyak seiring dengan bertambahnya pengusaha manisan buah pala.

Awalnya, kata Nia, hanya Said yang memproduksi manisan pala di daerahnya. Said mempunyai tiga anak. Satu dari tiga anaknya tersebut melanjutkan usahanya, yaitu Anton.

Menurut dia, Anton paling banyak mempekerjakan warga sebagai pengupas pala dibandingkan pengusaha manisan buah pala yang lainnya.

Namun, ada juga pengusaha lainnya yang tak kalah tenar. Satu di antaranya adalah Hapsah.

Namanya disebut-sebut di beberapa media massa karena memproduksi pala dan memberdayakan banyak perempuan di desa dramaga.

Perempuan yang biasa disapa Bu Aap ini telah menekuni usaha manisan pala sejak 1982, sementara Anton baru memulai usaha 10 tahun lalu.

Sebelum membuka usaha itu, Bu Aap adalah seorang buruh kupas buah pala juga.

Ia bercerita bahwa sejak umur 9 tahun ia sudah menjadi buruh kupas buah pala sampai dia menikah pada umur 13 tahun, ia masih menjadi buruh.

Selama ia menjadi buruh ia selalu memerhatikan bagaimana proses membuat manisan buah pala mulai dari mengupas sampai akhir untuk ia pelajari.

“Saya mencoba belajar dari situ,” kata dia.

Tahun 1982, Bu Aap nekat membuka usaha sendiri. Saat itu ia mengumpulkan uang untuk modal usahanya. “Modal saat itu Rp 50 ribu,” kata dia.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved