Saya Siap Mengantar Anda ke Puncak Gunung Klabat
Banyak yang saya antar sampai ke puncak, tapi banyak pula yang berhenti di tengah jalan karena tak sanggup melanjutkan perjalanan.
Oleh:
Cleaver Pasulatan
Warga Kaima, Kecamatan Kauditan
SAYA pertama naik Gunung Klabat tahun 2012.
Kesan pertama waktu itu medannya memang berat. Pendaki pemula seperti saya waktu itu agak kewalahan dengan jalurnya yang bikin patah hati.
Tapi secara fisik saya memang prima, karena saya juga suka berolahraga.
Meski medannya berat, otot-otot saya tak kaget menanjaki gunung tertinggi di Sulawesi Utara.
Pertama kali menginjakkan kaki di ketinggian 1.995 meter di atas permukaan laut, saya ketagihan.
Ternyata puncak Gunung Klabat memberikan pemandangan luar biasa, yang awalnya hanya bisa melihatnya dari rumah.
Sejak saat itu saya pun bisa dikatakan sering naik Klabat. Lagi pula rumah saya memang di Minahasa Utara.
Dari rumah saya, megahnya Klabat jelas terlihat. Ditambah lagi saya mendapat teman mendaki yang cocok, enak diajak mendaki.
Dari situ, perlahan saya mulai mendaki dengan orang lain. Biasanya ada teman yang ajak, mereka juga bawa teman. Begitu seterusnya.
Umumnya mereka pendaki pemula, bahkan banyak yang baru pertama kali naik Klabat.
Yang namanya mengantar orang baru, saya selalu kebagian bawaan yang banyak.
Saya maklum karena orang yang saya antar itu tak terbiasa dengan Gunung Klabat.
Kalau saya mendaki dengan teman yang sudah biasa, tentu kita bawa barang masing-masing.
Banyak yang saya antar sampai ke puncak, tapi banyak pula yang berhenti di tengah jalan karena tak sanggup melanjutkan perjalanan, baik cewek maupun cowok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/naik-klabat_20171005_003937.jpg)