Edisi Minggu History
Kental Nuansa Jawa di Desa Kanaan Dumoga
Warga di tempat ini jarang berbahasa Indonesia atau pun dialeg Mongondow sekalipun.
Penulis: Finneke | Editor: Aldi Ponge
"Warga Ikarat sering ambil hasil pertanian di Kanaan 42. Mereka di sana memang terampil bertani. Macam‑macam hasil pertaniannya," ujar Victor Lempas, warga Desa Ikarat, desa seberang Kanaan 42 yang telah bermukim di Tomohon.
Kepala Dusun Kanaan 42, Ahmad Freddy Bawuoh mengakui hasil utama dari petani desa adalah jagung.
Sebelumnya warga banyak yang menamam kedelai. Namun petani sulit memasarkan kedelainya.
Mereka hanya menjual hasilnya di pabrik tahu di Mopuya, Dumoga Utara. Ahmad mengalkulasi, hasil panen kedelai Desa Kanaan bisa mencapai 20 ton.
Dengan kondisi desa yang jauh dan terisolasi jika air sungai naik, distribusi hasil pertanian memang agak terhambat. Ahmad mengakui hal itu.
"Untung jalan sudah aspal. Dulu waktu masih tanah berbatu, lebih parah. Ke pasar di Pusian saja biaya ojek Rp 30 ribu sekali jalan. Untung kalau mereka yang punya kendaraan. Apalagi sungainya belum jadi," ucapnya.
Tak hanya pemasaran yang terhambat, ke pasar atau puskesmas warga masih terhalang dengan tak adanya jembatan menuju Desa Toruakat. Jika air naik, mereka terisolasi.
Dari sungai, ada jarak sepuluh kilometer mengarungi jalan berkelok‑kelok dan menanjak tajam untuk sampai ke Kanaan 42 ini. Dusun ini memang terpisah agak jauh dari desa induknya, yang mayoritas adalah transmigran asal Minahasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/desa-kanaan-bolmong_20170903_114241.jpg)