Edisi Minggu History
Kental Nuansa Jawa di Desa Kanaan Dumoga
Warga di tempat ini jarang berbahasa Indonesia atau pun dialeg Mongondow sekalipun.
Penulis: Finneke | Editor: Aldi Ponge
Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan
TRIBUNMANADO.CO.ID. BOLMONG - Bila berkunjung ke Desa Kanaan 42, jangan heran jika hampir semua warga di desa ini adalah orang Jawa. Desa ini merupakan satu di antaranya daerah transmigrasi di Bolaang Mongondow.
Kanaan 42 ini sebenarnya merupakan Dusun VI dari Desa Kanaan, Kecamatan Dumoga. Angka 42 itu punya sejarahnya sendiri, yakni dusun yang dihuni oleh 42 kepala keluarga.
Dusun ini sudah ada sekitar 30-an tahun, ketika warga dari Jember dan Banyuwangi berpindah ke sini. Mereka secara bersama‑sama sebanyak 42 kepala keluarga menjadi peruntungan baru di pegunungan Dumoga ini.
Seiring berjalannya waktu, kepala keluarga di desa ini berkurang. Data terakhir tinggal 39 kepala keluarga di sini dan ada dua keluarga yang merupakan warga Minahasa.
Herlik Bagit, Sangadi Kanaan, mengatakan, desa ini resmi menjadi Desa Kanaan pada tahun 1996. Sebelumnya itu adalah kawasan perkebunan Molingongot. Kenapa diberikan nama Kanaan, Herlik juga tak tahu pasti.
"Kanaan 42 juga karena awalnya ada 42 KK di situ. Meski sudah kurang, tapi namanya tetap Kanaan 42. Tapi sebenarnya itu Dusun VI. Nama itu juga karena tempat ini terpisah dengan desa induk," ujarnya Sabtu (2/9).
Warga di tempat ini jarang berbahasa Indonesia atau pun dialeg Mongondow sekalipun. Keseharian mereka diisi dengan bahasa Jawa, termasuk anak‑anak.
Anak‑anak usia sekolah di sini pun sulit berbahasa Indonesia. Seperti pantauan Tribun saat berkunjung ke tempat ini pertengahan Agustus lalu. Ketika berbincang dengan siswa SD Negeri Gunung Sari, ada orangtua mereka yang menerjemahkan Bahasa Indonesia ke Jawa.
Namun bukan tak tahu sama sekali, tapi mereka tak terlalu terbiasa. Namun berkat siaran televisi, mereka perlahan mulai tahu bahasa Indonesia.
Penuturan orangtua, di sekolah pun guru mengajar campur bahasa Jawa.
"Gurunya dari Minahasa. Tapi malah sudah ngerti bahasa Jawa," ujar Sulastri, salah seorang orangtua murid.
Jauh dan Terisolasi
Puluhan jiwa yang sekitar 30-an tahun pindah ke tempat ini rela menyusuri pegunungan tengah untuk memulai hidup baru mereka.
Warga Desa Kanaan 42 ini rupaya terampil dalam bertani. Terbukti dengan hasil pertanian mereka yang mumpuni.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/desa-kanaan-bolmong_20170903_114241.jpg)