Breaking News
Minggu, 7 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Edisi Minggu History

Kental Nuansa Jawa di Desa Kanaan Dumoga

Warga di tempat ini jarang berbahasa Indonesia atau pun dialeg Mongondow sekalipun.

Tayang:
Penulis: Finneke | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Desa Kanaan, Bolmong 

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID. BOLMONG - Bila berkunjung ke Desa Kanaan 42, jangan heran jika hampir semua warga di desa ini adalah orang Jawa. Desa ini merupakan satu di antaranya daerah transmigrasi di Bolaang Mongondow.

Kanaan 42 ini sebenarnya merupakan Dusun VI dari Desa Kanaan, Kecamatan Dumoga. Angka 42 itu punya sejarahnya sendiri, yakni dusun yang dihuni oleh 42 kepala keluarga.

Dusun ini sudah ada sekitar 30-an tahun, ketika warga dari Jember dan Banyuwangi berpindah ke sini. Mereka secara bersama‑sama sebanyak 42 kepala keluarga menjadi peruntungan baru di pegunungan Dumoga ini.

Seiring berjalannya waktu, kepala keluarga di desa ini berkurang. Data terakhir tinggal 39 kepala keluarga di sini dan ada dua keluarga yang merupakan warga Minahasa.

Herlik Bagit, Sangadi Kanaan, mengatakan, desa ini resmi menjadi Desa Kanaan pada tahun 1996. Sebelumnya itu adalah kawasan perkebunan Molingongot. Kenapa diberikan nama Kanaan, Herlik juga tak tahu pasti.

"Kanaan 42 juga karena awalnya ada 42 KK di situ. Meski sudah kurang, tapi namanya tetap Kanaan 42. Tapi sebenarnya itu Dusun VI. Nama itu juga karena tempat ini terpisah dengan desa induk," ujarnya Sabtu (2/9).

Warga di tempat ini jarang berbahasa Indonesia atau pun dialeg Mongondow sekalipun. Keseharian mereka diisi dengan bahasa Jawa, termasuk anak‑anak.

Anak‑anak usia sekolah di sini pun sulit berbahasa Indonesia. Seperti pantauan Tribun saat berkunjung ke tempat ini pertengahan Agustus lalu. Ketika berbincang dengan siswa SD Negeri Gunung Sari, ada orangtua mereka yang menerjemahkan Bahasa Indonesia ke Jawa.

Namun bukan tak tahu sama sekali, tapi mereka tak terlalu terbiasa. Namun berkat siaran televisi, mereka perlahan mulai tahu bahasa Indonesia.

Penuturan orangtua, di sekolah pun guru mengajar campur bahasa Jawa.

"Gurunya dari Minahasa. Tapi malah sudah ngerti bahasa Jawa," ujar Sulastri, salah seorang orangtua murid. 

Jauh dan Terisolasi

Puluhan jiwa yang sekitar 30-an tahun pindah ke tempat ini rela menyusuri pegunungan tengah untuk memulai hidup baru mereka.

Warga Desa Kanaan 42 ini rupaya terampil dalam bertani. Terbukti dengan hasil pertanian mereka yang mumpuni.

"Warga Ikarat sering ambil hasil pertanian di Kanaan 42. Mereka di sana memang terampil bertani. Macam‑macam hasil pertaniannya," ujar Victor Lempas, warga Desa Ikarat, desa seberang Kanaan 42 yang telah bermukim di Tomohon.

Kepala Dusun Kanaan 42, Ahmad Freddy Bawuoh mengakui hasil utama dari petani desa adalah jagung.

Sebelumnya warga banyak yang menamam kedelai. Namun petani sulit memasarkan kedelainya.

Mereka hanya menjual hasilnya di pabrik tahu di Mopuya, Dumoga Utara. Ahmad mengalkulasi, hasil panen kedelai Desa Kanaan bisa mencapai 20 ton.

Dengan kondisi desa yang jauh dan terisolasi jika air sungai naik, distribusi hasil pertanian memang agak terhambat. Ahmad mengakui hal itu.

"Untung jalan sudah aspal. Dulu waktu masih tanah berbatu, lebih parah. Ke pasar di Pusian saja biaya ojek Rp 30 ribu sekali jalan. Untung kalau mereka yang punya kendaraan. Apalagi sungainya belum jadi," ucapnya.

Tak hanya pemasaran yang terhambat, ke pasar atau puskesmas warga masih terhalang dengan tak adanya jembatan menuju Desa Toruakat. Jika air naik, mereka terisolasi.

Dari sungai, ada jarak sepuluh kilometer mengarungi jalan berkelok‑kelok dan menanjak tajam untuk sampai ke Kanaan 42 ini. Dusun ini memang terpisah agak jauh dari desa induknya, yang mayoritas adalah transmigran asal Minahasa. 

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved