Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Minggu

(Renungan Minggu) Nancy Apouw : Keberagaman Merupakan Anugerah

Dinamika dunia membawa manusia kepada berbagai kemudahan dan kesenangan.

Editor: Aldi Ponge
net
Ilustrasi 

Dalam ayat 14‑17, Paulus mengajak jemaat untuk bersama menyadari, bahwa perbedaan memang merupakan hal nyata dan faktual dalam jemaat.

Jemaat diharapkan menyadari, bahwa perbedaan tersebut merupakan kehendak Allah sebagai pencipta, dan dimaksudkan demikian dalam rangka menumbuhkan rasa saling membutuhkan dan motivasi untuk  saling melengkapi.

Menyangkut keberagaman anggota dalam kesatuan tubuh Kristus, Paulus tidak menyangkal (atau berusaha menutupi) bahwa di antara begitu banyak anggota, terdapat kekurangan, kelemahan, yang dibahasakan tidak elok/kurang terhormat (band Ayat 22‑24). Dan hal itu malah dijadikan sebagai faktor pendorong untuk saling melengkapi, berdasarkan prinsip saling membutuhkan.

Kompleksitas masalah yang dihadapi menuntut Paulus menulis surat berisi doktrin tentang Keesaan di dalam Kristus (ayat 27), dilanjutkan dengan deskripsi tentang keberagaman karunia dalam melayani, serta ajakan pastoral untuk saling memperhatikan sebagai satu tubuh.

Ayat 28‑30, Paulus mendeskripsikan keberagaman karunia dalam pelayanan sebagai kehendak Allah, yang oleh karena itu akan sangat keliru jika dipergunakan sebagai dasar/alasan untuk menciptakan perpecahan.

Paulus memandang keberagaman karunia bukan sebagai hal yang harus dipertentangkan (atau dipertandingkan dalam rangka menonjolkan diri), melainkan sebagai anugerah untuk selanjutnya saling melengkapi sebagai satu kesatuan tubuh Kristus.

Makna dan Implikasi Firman

Gereja memiliki tanggung jawab membawa "Kabar baik" kepada dunia nyata, tanpa harus menjadi "duniawi". Suara kenabian harus disampaikan tetap di dalam koridor pemberitaan Injil.

Gereja harus menganggap musuh semua pengaruh dunia yang negatif dan menyesatkan, pada saat yang sama meng‑aplikasikan kasih Kristus yang merangkul, mengampuni dan membaharui.

Masalah muncul ketika gereja tidak lagi tampil sebagai gereja, malah terhisab dan terkontaminasi oleh berbagai pengaruh buruk dunia.

Ketika gereja menutup mata dan pura‑pura tidak tahu atau malah mengaminkan tindakan‑tindakan ketidakbenaran yang merajalela.

Cukuplah Korintus dengan predikat kota duniawi, kota dosa. Gereja di masa kini pertama‑tama harus mengenal dirinya, mengetahui karunia apa saja yang dimilikinya, untuk kemudian secara efisien dan efektif memanfaatkannya.

Secara bersamaan, gereja juga harus betul‑betul mengenal dengan baik dunia sekitarnya, untuk kemudian dalam menata berbagai program pelayanannya, mendorong ditingkatkan‑ nya/terpeliharanya nilai‑nilai positif/kebaikan yang ber‑ sesuaian dengan berita Injil, tapi juga diantisipasinya/ ditangkalnya berbagai pengaruh buruk/negatif yang berpotensi merusak jatidiri umat dan gereja itu sendiri. (Vikaris Pdt Nancy Apouw STh/Melayani di Jemaat GMIM Yobel Bitung)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved