Renungan Minggu
(Renungan Minggu) Nancy Apouw : Keberagaman Merupakan Anugerah
Dinamika dunia membawa manusia kepada berbagai kemudahan dan kesenangan.
TRIBUNMANADO.CO.ID - 1 Korintus 12:12‑31. Gereja hidup dan berada di dalam dunia yang dinamis. Dinamika dunia membawa manusia kepada berbagai kemudahan dan kesenangan.
Hal ini secara tidak langsung mendorong bergesernya nilai‑nilai kehidupan karena fokus utama kehidupan (dalam berbagai bentuknya) terarah kepada upaya‑upaya memperoleh kesenangan/kesejahteraan, sekalipun melalui kemudahan‑kemudahan yang direkayasa.
Manusia berlomba mencapai tujuan, memenuhi target, menikmati kepuasan dalam waktu sesingkat mungkin. Tidak sedikit yang terjebak pada penggunaan/menghalalkan (segala macam cara) demi menikmati hasil/tujuan hidupnya.
Juga tidak sedikit pribadi mengabaikan tatanan etika dan moral (termasuk di dalamnya mengorbankan orang/pihak lain) demi terpenuhinya sebuah ambisi/obsesi. Yang kaya makin bertambah kekayaannya, sedangkan yang miskin makin miskin, makin banyak dan makin termarginalisasi.
Di tengah konteks dunia yang seperti inilah gereja terpanggil dan tertantang untuk membawa "Kabar Baik" itu. Dengan semua karunia yang dimilikinya, gereja ditantang untuk mampu menjadi mercusuar, menghadirkan pengharapan akan keselamatan, hadirnya solusi‑solusi konkrit lewat pelayanannya.
Pertama, gereja harus mengenal (dengan baik) dirinya. Harus benar diketahui dan dipahami faktor‑faktor seperti kekuatan, kelemahan, serta potensi‑potensi yang berpeluang menguatkan maupun melemahkan.
Data dan statistik merupakan instrumen‑instrumen yang dapat digunakan dalam rangka pemberdayaan jemaat/gereja. Gereja akan efektif serta efisien menata pelayanannya ketika/jika data dan statistiknya difungsikan sebagaimana mestinya.
Kedua, dalam rangka penatalayanan yang efisien dan efektif (mencakup di dalamnya efektifitas pemanfaatan data dan statistik), gereja pun tertantang untuk memiliki good view, pandangan serta pemahaman/pengetahuan yang baik tentang dunia di sekitarnya.
Sangat tidak diharapkan gereja memiripkan diri, terkontaminasi situasi sekitarnya.
Gereja dengan semua karunia yang dimilikinya, tampil sebagai pembawa, pemberita, bahkan pejuang kebenaran/kabar baik. Dengan suara kenabiannya, gereja diharapkan membawa kesejukkan serta pencerahan dalam berbagai situasi kehidupan umat, di mana dan ke mana ia diutus dan berada.
Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota‑anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh. Membaca penggalan kalimat dari ayat 12 ini, kita mendapat 2 kesan awal.
Pertama, ayat ini merupakan bagian/kelanjutan dari paparan yang mengarah pada suatu konklusi. Kedua, penggunaan istilah satuan jumlah seperti satu dan banyak, mengindikasikan bahwa fenomena yang sedang dihadapi (dan berusaha diterobos/ diselesaikan) adalah perpecahan/disintegrasi, serta munculnya faksi‑faksi sebagai buah perbedaan latar belakang penginjilan.
Korintus merupakan sebuah kota yang menjadi pusat pembangunan kapal, pusat perdagangan, industri dan pemerintahan serta pusat olahraga. Kota itu dijuluki "kota duniawi atau "kota dosa".
Sesuai dengan arti nama Korintus (dari kata kerjakorinthiazein = hidup seperti orang Korintus yang artinya hidup amoral), kota itu dijuluki "kota duniawi" atau "kota dosa." Korintus sesungguhnya merupakan kota yang sangat duniawi dan dipengaruhi oleh berbagai orang dari berbagai kebudayaan.
Orang‑orang yang hidup di kota Korintus memiliki tradisi lama penyembahan terhadap dewi cinta, Afroditus. Paulus menulis surat ke jemaat di kota itu karena berbagai permasalahan yang dihadapi oleh jemaat, berhadapan dengan berbagai pengaruh gaya hidup di kota itu.
Dalam ayat 14‑17, Paulus mengajak jemaat untuk bersama menyadari, bahwa perbedaan memang merupakan hal nyata dan faktual dalam jemaat.
Jemaat diharapkan menyadari, bahwa perbedaan tersebut merupakan kehendak Allah sebagai pencipta, dan dimaksudkan demikian dalam rangka menumbuhkan rasa saling membutuhkan dan motivasi untuk saling melengkapi.
Menyangkut keberagaman anggota dalam kesatuan tubuh Kristus, Paulus tidak menyangkal (atau berusaha menutupi) bahwa di antara begitu banyak anggota, terdapat kekurangan, kelemahan, yang dibahasakan tidak elok/kurang terhormat (band Ayat 22‑24). Dan hal itu malah dijadikan sebagai faktor pendorong untuk saling melengkapi, berdasarkan prinsip saling membutuhkan.
Kompleksitas masalah yang dihadapi menuntut Paulus menulis surat berisi doktrin tentang Keesaan di dalam Kristus (ayat 27), dilanjutkan dengan deskripsi tentang keberagaman karunia dalam melayani, serta ajakan pastoral untuk saling memperhatikan sebagai satu tubuh.
Ayat 28‑30, Paulus mendeskripsikan keberagaman karunia dalam pelayanan sebagai kehendak Allah, yang oleh karena itu akan sangat keliru jika dipergunakan sebagai dasar/alasan untuk menciptakan perpecahan.
Paulus memandang keberagaman karunia bukan sebagai hal yang harus dipertentangkan (atau dipertandingkan dalam rangka menonjolkan diri), melainkan sebagai anugerah untuk selanjutnya saling melengkapi sebagai satu kesatuan tubuh Kristus.
Makna dan Implikasi Firman
Gereja memiliki tanggung jawab membawa "Kabar baik" kepada dunia nyata, tanpa harus menjadi "duniawi". Suara kenabian harus disampaikan tetap di dalam koridor pemberitaan Injil.
Gereja harus menganggap musuh semua pengaruh dunia yang negatif dan menyesatkan, pada saat yang sama meng‑aplikasikan kasih Kristus yang merangkul, mengampuni dan membaharui.
Masalah muncul ketika gereja tidak lagi tampil sebagai gereja, malah terhisab dan terkontaminasi oleh berbagai pengaruh buruk dunia.
Ketika gereja menutup mata dan pura‑pura tidak tahu atau malah mengaminkan tindakan‑tindakan ketidakbenaran yang merajalela.
Cukuplah Korintus dengan predikat kota duniawi, kota dosa. Gereja di masa kini pertama‑tama harus mengenal dirinya, mengetahui karunia apa saja yang dimilikinya, untuk kemudian secara efisien dan efektif memanfaatkannya.
Secara bersamaan, gereja juga harus betul‑betul mengenal dengan baik dunia sekitarnya, untuk kemudian dalam menata berbagai program pelayanannya, mendorong ditingkatkan‑ nya/terpeliharanya nilai‑nilai positif/kebaikan yang ber‑ sesuaian dengan berita Injil, tapi juga diantisipasinya/ ditangkalnya berbagai pengaruh buruk/negatif yang berpotensi merusak jatidiri umat dan gereja itu sendiri. (Vikaris Pdt Nancy Apouw STh/Melayani di Jemaat GMIM Yobel Bitung)