Single Focus Reporting
(CONTENT) Revina 2 Jam Menunggu Angkot, Aksi Mogok Bikin Terlambat ke Kampus
Demo massal angkutan kota (angkot), taksi dan Angkutan Kota Dalam Provinsi, Kamis (23/3), melumpuhkan aktivitas dan sebagian perekonomian di Manado.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Alexander Pattyranie
John Tangkilisan, sopir taksi mengatakan, hadirnya Go‑Jek membuat penumpang yang memilih taksi sebagai angkutan berkurang drastis.
"Di kawasan Megamas saja mereka (Go‑Jek) sudah delapan kali dapat penumpang, sedangkan kami belum dapat penumpang," ujar John mengeluhkan.
Sebelum ada Go-Jek dia mengaku bisa mendapat penghasilan Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu, saat ini tidak lagi.
''Jadi kami minta mereka diberhentikan operasinya, '' ujarnya.
Aksi mogok para sopir ini menyebabkan penumpang di beberapa titik terlantar.
Misalnya di Tuminting, Sumompo, Cereme, Wawonasa, Patung Kuda Paal Dua dan Yos Sudarso.
Penumpang berjam-jam berdiri di pinggiran jalan tanpa ada angkutan yang membawa ke tujuan.
Hal ini juga dikeluhkan, Erna Denga.
''Saya sudah hampir satu jam berdiri di sini sambil bawa belanjaan. Tapi angkutan kotanya ndak datang-datang. Untung ada bus Trans Kawanua milik pemerintah datang menjemput," ujar Erna Denga di Jalan Yos Sudarso.
Erna menyesalkan adanya aksi mogok ini yang membuat mereka kesulitan mendapatkan angkutan untuk ke tempat kerja dan aktivitas lainnya.
''Semoga saja aksi ini tidak berlanjut hingga besok (hari ini). Kasihan anak saya yang mau ke sekolah. Beruntung saat mau ke sekolah masih ada angkot, '' ujarnya.
Sedangkan Bella Papuling, karena terlalu lama menunggu terpaksa memilih untuk naik gojek online.
"Saya sudah lama menunggu, hingga kaki pegal, angkutan kota tak kunjung datang. Terpaksa menghubungi gojek online," kata Bella Papuling.
Dia mengatakan, memilih Go-Jek online karena memang tak ada pilihan lain.
Apalagi dia menginginkan cepat pulang ke rumah.