TribunManado/

RENUNGAN MINGGU: Kasih yang Unlimited

DI dunia media sosial dan arus teknologi zaman ini ada satu istilah yang mulai umum dikenal penggiat teknologi dan media, yakni unlimited.

RENUNGAN MINGGU: Kasih yang Unlimited
net

Oleh Pastor Andre Rumajar

Departemen Misi dan Identitas Unika De La Salle

DI dunia media sosial dan arus teknologi zaman ini ada satu istilah yang mulai umum dikenal penggiat teknologi dan media, yakni unlimited.

Istilah ini sederhananya berarti: tak terbatas. Berdasarkan Merriam‑Webster dictionary, arti kata ini bisa lebih dalam lagi, yakni tidak terbelenggu dengan pengecualian; terbebas dari ikatan‑ikatan, bahkan lepas kontrol. Tak disangka istilah ini seolah booming akhir‑akhir ini, saat media komunikasi dan teknologi berkembang dengan pesatnya. Pasalnya, orang zaman ini cenderung berminat terhadap kuota internet yang unlimited, bonus telepon dan sms unlimited.

Inilah yang ditawarkan dunia yang juga mulai unlimited. Tanpa disadari karakter dunia dan manusia pun bergerak unlimited, saling merebut dan menguasai, menyingkirkan batas bukan untuk saling merangkul melainkan untuk saling menindas. Perang dan balas dendam pun menjadi unlimited. Penyebaran fitnah dan berita hoax juga semakin unlimited.

Budaya unlimited seolah menggilas beradaban belas kasih yang telah lebih dahulu diperkenalkan Tuhan bagi dunia. Masih mungkinkah semangat pengampunan dan belas kasih Tuhan juga unlimited bagi kita? Masih tertarikkah orang untuk saling memberi pengampunan tanpa batas? Mengampuni mudah diucapkan tetapi tidak mudah dipraktekkan.

Bacaan‑bacaan Kitab Suci hari Minggu ini mengajak kita untuk kembali merenungkan bahwa semangat pengampunan dan belas kasih pertama‑tama bersumber dari kemurahan hati dan belas kasihan Allah yang juga tak terbatas. Kitab Putra Sirakh menggaris bawahi hal ini:

"Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa‑dosamu akan dihapus juga, jika engkau berdoa.". Penting untuk senantiasa diingat bahwa prinsip dasar tindakan pengampunan kita terhadap sesama adalah karena Allah telah terlebih dahulu mengampuni kita. Pengampunan Allah adalah unlimited. Dan itulah juga perintah-Nya agar setiap makhluk mengusahakan hidup damai satu dengan yang lainnya.

Yesus dalam Injil hari ini menegaskan hal pengampunan sebagai model kerahiman ilahi yang paling agung. "Sampai berapa kali kita harus mengampuni?" Tujuh kali tidaklah cukup, melainkan harus tujuh puluh kali tujuh kali atau dengan kata lain tak terbatas, unlimited. Perikop Injil ini menceritakan pentingnya mengampuni dan berbelas kasih kepada sesama, karena kita semua telah menerima belas kasih dan pengampunan dari Tuhan. Namun, kita hanya dapat mengampuni sesama kita dengan segenap hati, kalau kita bekerjasama dengan rahmat Allah. Kita diajarkan bahwa belas kasih adalah merupakan esensi dari Injil dan kekristenan.

Pada ayat terakhir perikop Injil ini Yesus menegaskan "Maka Bapa‑Ku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing‑masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (ay.35) Pernyataan yang sama sebenarnya secara gamblang telah diberikan oleh Yesus sendiri dalam petisi ke‑empat dari doa Bapa Kami, yang mengatakan: "Ampunilah kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami."

Katekismus Gereja Katolik menuliskan:

"Sungguh mengejutkan bahwa kerahiman ini tidak dapat meresap di hati kita sebelum kita mengampuni yang bersalah kepada kita. Sebagaimana tubuh Kristus, demikian pula cinta tidak dapat dibagi‑bagi. Kita tidak dapat mencintai Allah yang tidak kita lihat, kalau kita tidak mencintai saudara dan saudari kita yang kita lihat (Bdk. 1 Yoh 4:20.). Kalau kita menolak mengampuni saudara dan saudari kita, hati kita menutup diri dan kekerasannya tidak dapat ditembus oleh cinta Allah yang penuh kerahiman. Tetapi dengan mengakui dosa‑ dosa, hati kita membuka diri lagi untuk rahmat‑Nya." (KGK, 2840).

Pada tahun 1980, sambil giat‑giatnya menyebarluaskan Devosi Kerahiman Ilahi, Paus Yohanes Paulus II menerbitkan sebuah ensiklik yang diberi judul "Dives in Misericordia". Suasana hati Sri Paus yang sungguh amat mengagumi Allah yang kaya akan kasih dan pengampunan sangat terasa dalam ensiklik ini.

Tentu hal ini dipengaruhi juga oleh catatan‑catatan harian St. Faustina Kowalska, sang Rasul Kerahiman Ilahi. Melalui ensiklik ini Paus menegaskan bahwa Kristus adalah inkarnasi kerahiman. Dialah sumber belas kasih yang tak habis‑habisnya. Lebih jauh lagi Paus menekankan bahwa program mesianik Kristus adalah program belas kasih serta pengampunan. Program Kristus di dunia ini harus menjadi program Umat Allah, program Gereja. Gereja, teristimewa dalam masa modern ini, mengemban tugas dan kewajiban: Pertama, untuk memaklumkan dan mewartakan belas kasih Allah serta memperkenalkan dan mewujud‑nyatakannya dalam hidup segenap umat manusia. Kedua, bergerak datang kepada belas kasih Allah itu, sambil memohonkannya dengan sangat bagi seluruh dunia.

Demikianlah, saling mengampuni merupakan perwujudan dari kasih kita kepada Allah, sebagaimana Allah telah mengasihi kita. Jika kebutuhan zaman ini adalah yang unlimited, maka hendaklah aktor‑aktor kasih yang unlimited bagi sesama. Semoga demikian.*

Editor: Andrew_Pattymahu
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help