Catata Wartawan
Doa untuk Anak-anak Hilang
Queentania Makal akhirnya ditemukan pada Rabu (28/5/2026) sore, setelah enam hari pencarian.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Ventrico Nonutu
QUEENTANIA Makal akhirnya ditemukan pada Rabu (28/5/2026) sore, setelah enam hari pencarian.
Bocah berusia 11 tahun itu sebelumnya hilang di kawasan Air Terjun Paris, Desa Kayuuwi, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Queen - begitu ia akrab disapa - ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.
Namun publik tetap mengucap syukur.
Sebab, yang hilang akhirnya ditemukan kembali.
Jenazahnya dapat dipulangkan dan dimakamkan secara layak.
Kita semua berdoa agar jiwanya tenang bersama Bapa di surga.
Kasus anak hilang di Sulawesi Utara selalu mengguncang perhatian publik.
Tahun lalu, Roy, bocah berusia enam tahun, menggemparkan masyarakat setelah hilang selama berhari-hari di hutan Desa Tombuluan, Minahasa.
Berbagai isu pun beredar tentang hilangnya Roy.
Yang paling absurd adalah anggapan bahwa ia disembunyikan makhluk halus.
Roy akhirnya ditemukan selamat.
Namun misteri belum benar-benar terjawab: bagaimana ia bisa hilang, dan bagaimana anak sekecil itu mampu bertahan selama sembilan hari di hutan?
Namun, hilangnya Jimmy Kusuma adalah misteri di atas misteri.
Beberapa waktu lalu, saya meliput kisah hilangnya bocah malang ini.
Agar utuh, saya tuliskan kembali reportase yang pernah dimuat di Tribun Manado.
Air mata Tjeng Fui Lin tak pernah benar-benar kering untuk anaknya, Jimmy Kusuma.
Ia selalu menangis setiap kali membicarakan Jimmy yang hilang sejak tiga tahun lalu.
Saat ditemui Tribun Manado di tokonya di Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Senin (6/7/2015), air mata Lin kembali berderai setiap mulutnya menyebut nama Jimmy.
“Saya tak bisa melupakannya,” katanya lirih.
Jimmy hilang secara misterius pada 7 Februari 2012.
Bocah yang saat itu berusia 11 tahun diduga hilang dalam perjalanan menuju warnet, hanya beberapa meter dari rumah mereka.
Pencarian besar-besaran dilakukan oleh kepolisian dengan bantuan TNI. Namun, semua upaya tak membuahkan hasil.
Sedikit petunjuk justru datang dari sejumlah orang pintar.
Menurut mereka, Jimmy berada di alam gaib dan dijaga seorang tua yang tidak berniat jahat.
“Tapi hal itu tidak bisa dijadikan petunjuk,” ujar Lin.
Tak terhitung duka yang dialami Lin dan suaminya, Kasim Tjuhendra Kusuma.
Selain akrab dengan air mata, keduanya juga hidup dalam trauma berkepanjangan.
“Kalau ada berita anak hilang di televisi, kami langsung mematikan TV,” katanya.
Tiga tahun telah berlalu, tetapi bagi Lin semuanya terasa seperti baru terjadi kemarin.
Ia masih mengingat jelas hari-hari awal ketika Jimmy dinyatakan hilang, dan kepanikan yang datang sesudahnya.
Padahal sehari sebelumnya Jimmy tampak begitu bahagia dalam perayaan Cap Go Meh.
“Malamnya dia bilang saya wanita paling cantik, sementara ayahnya orang paling tampan. Besoknya dia hilang. Perih hati saya,” katanya sambil menangis.
Hari-hari pencarian Jimmy dipenuhi doa dan jerih payah. Menurut Lin, pencarian melibatkan polisi, TNI, SAR, hingga masyarakat umum.
Segala upaya telah dilakukan, termasuk menutup jalur keluar-masuk Sulawesi Utara.
Namun Jimmy seolah hilang ditelan bumi.
Hilangnya Jimmy mengetuk nurani banyak orang, termasuk para rohaniawan.
Lin mengingat bagaimana tokoh agama dari berbagai keyakinan datang ke rumah mereka untuk mendoakan Jimmy.
Ketika pencarian tetap tidak menemukan hasil, Lin mengaku akhirnya pasrah.
Namun, ia tak pernah mau menyebut anaknya telah meninggal dunia.
“Sampai sekarang saya hanya menganggap dia hilang. Orang yang hilang pasti kembali,” ujarnya.
Lin percaya mujizat akan datang, dan suatu hari keluarganya akan kembali berkumpul seperti sediakala.
“Saya tidak mau menyalahkan Tuhan. Apa yang Tuhan buat tetap baik adanya,” katanya.
Lin mengaku pernah dua kali didatangi sukma Jimmy.
Jimmy disebut menitis melalui tubuh seseorang.
“Ia bilang, ‘Mama, akan ada bencana besar. Banyak berdoa dan beramal. Kumpulkan umat untuk sembahyang.’ Saat saya tanya bencana apa, dia bilang itu rahasia Thian,” ujarnya.
Petunjuk itu ditindaklanjuti Lin dengan memindahkan barang-barang dari toko.
Banyak orang menanggapinya dengan skeptis.
Namun Lin tidak peduli.
“Dalam hati saya merasa ada dorongan itu. Beberapa hari setelah kami mengungsi, datang banjir besar 15 Januari,” katanya.
Kejadian kedua terjadi beberapa waktu kemudian.
Dalam perjumpaan itu, Jimmy mengatakan dirinya baik-baik saja.
“Dia bilang kami akan berkumpul lagi, hanya belum tahu kapan. Dia bilang akan kembali,” ujar Lin.
Saya percaya Tjeng Fui Lin akan kembali bertemu dengan anaknya.
Karena pada akhirnya, kita semua akan bertemu kembali di hadapan takhta Sang Alfa dan Omega — Kristus, Sang Tao itu.
Yang hilang akan kembali.
Yang terpisah akan dipersatukan lagi.
(Arthur Rompis)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Proses-pencarian-Queentania-Makal-asdhg.jpg)