Catatan Seorang Jurnalis
Siti Nurbaya Abad 21
Kisah Sam Pek Eng Tay atau Siti Nurbaya yang menggoreskan luka berabad-abad dan kepedihannya terasa hingga kiamat.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Chintya Rantung
Ringkasan Berita:
- Tragedi terbesar manusia di dunia ini bukanlah perang atau bencana
- Tapi kasih tak sampai Dua insan yang terikat oleh surga, namun dipisahkan oleh dunia
- Kisah Sam Pek Eng Tay atau Siti Nurbaya yang menggoreskan luka berabad-abad dan kepedihannya terasa hingga kiamat
Tragedi terbesar manusia di dunia ini bukanlah perang atau bencana.
Tapi kasih tak sampai.
Dua insan yang terikat oleh surga, namun dipisahkan oleh dunia.
Simak saja kisah Sam Pek Eng Tay atau Siti Nurbaya yang menggoreskan luka berabad-abad dan kepedihannya terasa hingga kiamat.
Namun, tragedi tetap penting karena ia memunculkan pahlawan. Mereka yang hanya mau tunduk pada perintah hati yang murni, berjuang melawan "huruf mati" dari para legalis yang buta hati.
Mereka yang menolak menyerah, meski tahu peluang menang tipis, bahkan hampir tidak ada.
Saya pernah meliput kisah cinta yang menyayat hati antara seorang pria Filipina dan seorang gadis Bitung.
Keduanya dipisahkan bukan oleh restu orang tua, kasta, ekonomi, ataupun agama, melainkan oleh negara.
Sang pria bernama Lot Lot, datang dari Filipina ke Bitung untuk mencari penghidupan.
Ia tak punya kewarganegaraan. Meski sudah mati-matian belajar bahasa Indonesia, Pancasila, dan menyanyikan Indonesia Raya, ia tetap sulit menjadi WNI.
Tuhan ternyata menaruh tulang rusuknya di Bitung ; seorang wanita pesisir bernama Hanna.
Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, di sinilah problemnya.
Keduanya tak mungkin menikah secara resmi karena Lot Lot tidak memiliki KTP maupun KK.
Pendeta di gereja tempat mereka beribadah pun dilematis. Ia ingin menyatukan ikatan suci mereka, namun tak bisa melanggar hukum negara.
"Saya selalu berdoa bersama mereka, bahkan kami sering sama-sama menangis," ujar sang pendeta.
Saya menjumpai pasangan ini pada pertengahan 2017 di sebuah rumah sederhana dekat pantai.
Mereka miskin secara materi, namun kaya oleh cinta. Sebuah salib besar tergantung di tengah rumah, yang agaknya menjadi harta termewah mereka.
Hanna bersikeras menyajikan makanan, yang saya tolak dengan halus; saya hanya meminta sebatang rokok dari Lot Lot (waktu itu masih pemadat).
Di sanalah, dari mulut seorang nelayan kecil, keluar kata-kata layaknya seorang jenderal perang yang agung: "Saya ingin berjuang untuk cinta. Terus berjuang dengan iman. Saya ingin jadi WNI agar bisa menikahi Hanna."
"Kalau pun kalah di dunia ini, pasti akan menang di surga nanti," tambah Hanna tenang.
Setahun kemudian, saya meliput peristiwa diterimanya ratusan warga stateless asal Filipina menjadi WNI.
Gubernur Sulut kala itu menyerahkan langsung SK kewarganegaraan tersebut. Tangis haru pecah di sana. Banyak yang bernasib serupa dengan Lot Lot dan Hanna. Kini mereka bisa meresmikan cinta mereka di mata hukum.
Saya tidak sempat mencari wajah Lot Lot dan Hanna di antara ratusan orang itu. Namun, saya yakin mereka ada di sana.
Cinta yang berasal dari Tuhan pasti akan menang. Jika tidak di dunia ini, maka di keabadian nanti. Seperti kata Hanna. (Arthur Rompis)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Pemukiman-warga-stateless-asal-Filipina-di-Kelurahan-Manembo-nembo-Kota-Bitung-dfbvggfdvb.jpg)