Paskah 2026
Refleksi Jumat Agung: Paradoks Kebenaran Absolutisme vs Relativisme
Pertanyaan Pilatus kepada Yesus mengenai "Apa itu kebenaran?" saat proses pengadilan menjadi pertanyaan sepanjang masa.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
- Pertanyaan Pilatus kepada Yesus mengenai "Apa itu kebenaran?" saat proses pengadilan menjadi pertanyaan sepanjang masa.
- Dialog antara Yesus dan Pilatus bukan sekadar prosedur hukum, melainkan dialog paling fundamental dalam sejarah pemikiran teologi dan filsafat dunia.
- Namun, kebenaran apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dan Pilatus? Bagaimana konteksnya dalam realitas kehidupan kita hari ini?
Oleh: Ferdinand Dumais, Anggota DPRD Kota Manado periode 2024–2029
Pertanyaan Pilatus kepada Yesus mengenai "Apa itu kebenaran?" saat proses pengadilan menjadi pertanyaan sepanjang masa.
Dialog antara Yesus dan Pilatus bukan sekadar prosedur hukum, melainkan dialog paling fundamental dalam sejarah pemikiran teologi dan filsafat dunia.
Namun, kebenaran apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dan Pilatus? Bagaimana konteksnya dalam realitas kehidupan kita hari ini?
Diskursus ini mendaraskan dua jenis kebenaran: Kebenaran Absolut dan Kebenaran Relatif. Keduanya menyandang status "kebenaran", namun metode berpikir yang berbeda menjadikannya sebuah paradoks. Kebenaran yang Mutlak "digugat" oleh kebenaran Relatif; Kebenaran Induk diganggu oleh turunannya; dan Kebenaran Ilahi dipertanyakan oleh kebenaran manusiawi.
Paradoks ini terlihat dalam beberapa poin berikut:
Kebenaran yang Tak Setara: Yesus menyatakan kebenaran yang datang dari Allah (Kebenaran Mutlak).
Sebaliknya, pertanyaan Pilatus, "Apa itu kebenaran?" (Yohanes 18:38), mencerminkan pandangan pragmatis, relatif, dan politis.
Kepentingan Politik vs. Nurani: Meski Pilatus menyadari Yesus tidak bersalah, ia menyerah pada tekanan publik.
Di sini, kebenaran sesungguhnya dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan yang berujung pada vonis penyaliban.
Dua Kerajaan yang Berbenturan: Yesus mewakili Kerajaan Surgawi yang berlandaskan hukum cinta kasih, sementara Pilatus mewakili Kerajaan Dunia (Roma) yang mengandalkan kekuatan fisik.
Pilatus menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan status quo, sedangkan Yesus menggunakan ketaatan untuk menunjukkan kebenaran.
Ironi Barabas: Yesus, Sang Kebenaran, disalibkan; sementara Barabas, seorang pemberontak, dibebaskan.
Ada paradoks nama di sini: Bar-Abba dalam bahasa Aram berarti "Anak Bapa". Pilatus menyamakan Sang Putra Bapa yang sejati dengan "anak bapa" yang merupakan penjahat demi memuaskan massa.
| Ibadah Paskah ASN Pemkot Manado, Ini Pesan Wawali Richard Sualang |
|
|---|
| Besok, Festival Menghias Telur Paskah Digelar di Aula Mapalus, Target 2.000 Anak se-Sulut |
|
|---|
| Breaking News: Hashim Djojohadikusumo Tiba di Manado Sulut |
|
|---|
| Maria Shandi dan Yeshua Abraham Bakal Bawakan Pujian dalam Paskah Nasional 2026 di Manado Sulut |
|
|---|
| Ibadah Paskah GMIM Imanuel Bahu Manado, Belajar Dari Kesetiaan Ketaatan Perempuan Murid Yesus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/SOSOK-Ferdinand-Dumais-Ia-adalah-anggota-DPRD-Kota-Manado-periode-20242029.jpg)