Breaking News
Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Seorang Jurnalis

Bukan Valentine, Tapi Hari Merah Putih 

14 Februari 1946 dini hari. Para pemuda Manado menyerbu tangsi Belanda di Teling Manado. Dalam tempo singkat, tangsi berhasil dikuasai.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Istimewa/HO
PEJUANG RI - Bernard Wilhelm Lapian: Pemimpin sipil, residen Manado yang diangkat pemerintahan Republik. Ia adalah salah satu pemimpin dalam aksi merah putih di Manado 14 Februari 2026. 
Ringkasan Berita:
  • 14 Februari 1946 dini hari. Para pemuda Manado menyerbu tangsi Belanda di Teling Manado
  • Dalam tempo singkat, tangsi tersebut berhasil dikuasai. 
  • Para petinggi tentara Belanda ditawan. Sejumlah pejuang yang ditahan dibebaskan. 

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - 14 Februari 1946 dini hari. Para pemuda Manado menyerbu tangsi Belanda di Teling Manado, Sulawesi Utara.

Dalam tempo singkat, tangsi tersebut berhasil dikuasai. 

Para petinggi tentara Belanda ditawan. Sejumlah pejuang yang ditahan dibebaskan. 

Aksi sudah berjalan mulus. Sesuai rencana. 

Tapi para pemuda ini merasa masih ada yang kurang. 

Ternyata bendera merah putih biru masih berkibar di halaman tangsi. 

Aksi heroik lantas dilakukan para pemuda. 

Bagian bendera yang berwarna biru dirobek. Jadilah merah putih. Berkibarnya sang saka merah putih menandai penaklukan total. 

Apa yang terjadi di Manado itu ternyata tidak jadi peristiwa lokal semata. 

Disiarkan oleh radio BBC, peristiwa Merah Putih mendunia. Atau istilah kerennya saat ini viral. 

Pride Belanda runtuh gara - gara peristiwa itu. 

Klaim mereka bahwa Indonesia telah habis terbantahkan. 

Yang bikin sakit hati sekaligus sakit gigi bagi para Mener ini adalah yang melawan adalah bangsa Minahasa.

Bangsa yang selama ini dianggap "anak emas", bahkan sempat hampir jadi provinsi ke 12 Belanda

Para petinggi Nederland tak habis pikir, mengapa bangsa Minahasa yang Kristen dan suka bergaya Eropa akan melawan mereka. 

Bahkan jadi bangsa yang pertama melawan mereka di luar pulau Jawa usai proklamasi 17 Agustus 1945.

Bagi Indonesia, peristiwa Merah Putih merupakan tambahan energi yang begitu kuat.

Mirip dengan orang yang sudah sempoyongan, lalu minum vitamin dan makanan bergizi. 

Bangsa Minahasa yang dulunya sering menangkap para pemimpin pemberontak terhadap Belanda, jadi garda terdepan mengawal Republik. 

Ternyata, berjuang bagi bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim, bisa dilakukan sambil memegang kitab Injil di tangan kanan. 

Peristiwa Merah Putih adalah surat cinta warga Minahasa terhadap Republik.  

Ciri khas orang Minahasa sangat tampak dari peristiwa itu. 

Peristiwa Merah Putih berlangsung senyap, tanpa pertumpahan darah,  tapi dengan keberanian. 

Juga berkonsep. Bukan asal hantam kromo. Buktinya setelah tangsi dilumpuhkan, pemerintahan baru segera dibentuk. Kepalanya BW Lapian.

Hampir setiap tahun saya coba menggali peristiwa itu dengan mewawancarai sejarawan, pelaku sejarah, aktivis, LSM dan lainnya. 

Saya tak mau terpaku di buku sejarah. Siapa tahu ada kisah yang tak tercatat. Dan ada sejumlah kisah yang unik, yang butuh penelusuran lebih lanjut. 

Contohnya kabar bahwa ada letusan senjata serta terlibatnya sekelompok pemuda Tionghoa jago bela diri dari Kampung Cina Manado dalam membantu para pejuang Republik. 

Saya tertarik pada sosok BW Lapian. Ia seorang jurnalis. Tulisannya keras menentang penjajahan Belanda.

Lapian juga politikus ulung. Selain itu, Lapian seorang Kristen taat. Ia pendiri KGPM, gereja Calvinis yang bercorak nasionalis.

Semboyannya "Yesus Kristus dalam kebangsaan, kebangsaan dalam Yesus Kristus".

Lapian, seorang Kristen yang terjun di ruang publik untuk membawa ajaran Kristus ke semua inchi kehidupan, karena tak ada satu inchi pun di dunia ini tanpa Kristus bertahta. 

Saya sangat suka menyebut peristiwa Merah Putih adalah tampilnya para pengikut Kristus di ruang publik.

Mereka terpanggil untuk memerdekakan bangsa ini. 

Maka, inspirasi pemuda Kristen di Manado saat ini, bukanlah kisah cinta Valentine yang absurd itu, tapi cinta kepada Kristus yang mengharuskan mereka terjun di ruang publik. 

Mungkin - saya bisa saja salah - pendeta sudah sangat banyak di Indonesia.

Tapi pemikir Kristen, yang sudah lahir baru dan masuk ke ruang publik untuk berjuang bagi pembangunan Indonesia, masih sangat jurang.

Peristiwa Merah Putih memanggil kita untuk memegang pena ditangan kiri dan Injl di tangan kanan. Bukan coklat. Tapi Injil. (Arthur Rompis) 

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

 

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 

Otak Dangkal di Lautan Digital

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved