Catatan Seorang Jurnalis
Catatan Seorang Jurnalis: Di Libya, Meylani Berdoa untuk Pulang
Seorang wanita muda melantunkan doa Novena di sebuah kamar sempit, lewat tengah malam di Libya, negara yang terasa bak neraka baginya.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Seorang wanita muda melantunkan doa Novena di sebuah kamar sempit, lewat tengah malam di Libya, negara yang terasa bak neraka baginya.
Doa itu diucapkan pelan, hampir berbisik.
Selain takut terdengar majikan, ia percaya Tuhan tidak tuli terhadap bisikan orang tertindas.
Justru pada suara yang paling lemah itulah Ia berdiam.
“Tuhan Yesus dan Bunda Maria, tolong keluarkan aku dari neraka ini.”
Sesudah itu tak ada kata. Hanya air mata. Dan entah mengapa dadanya terasa lapang.
Seolah ada tangan yang tak kelihatan menyeka mukanya.
Harapan kecil menyala, meski untuk pulang hampir mustahil.
Usai berdoa, ia hendak tidur. Tangis kembali pecah.
Kali ini bukan karena putus asa, melainkan nyeri di punggung dan kaki yang terasa bukan kepalang saat tubuhnya bergeser.
Kerja berlebih dari pagi hingga larut malam membuatnya nyaris tak berdaya.
Perempuan itu bernama Meylani, pekerja migran asal Manado yang diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Libya.
Ia mengalami penyiksaan dan eksploitasi oleh beberapa majikan.
Kisah Meylani dituturkan adiknya, Olivia, yang saya temui di Manado.
Rumah Olivia berada di perbukitan Kelurahan Paal IV, Kecamatan Tikala.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/PEKERJA-MIGRAN-Olivia-menunjuk-foto-kakaknya-Meylani-34535.jpg)