Opini
Merawat Bumi, Meneladani Nabi : Refleksi Maulid 2025
Momen suci ini bukan hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi juga kesempatan emas untuk mengenang kembali kelahiran Rasulullah.
Oleh:
Dr. Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd
(Kepala Kanwil Kemenag Sulut)
HARI ini istimewa bagi seluruh umat Islam karena diperingati sebagai Maulid Nabi Muhammad SAW atau 12 Rabiul Awal 1447 Hijriah.
Momen suci ini bukan hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi juga kesempatan emas untuk mengenang kembali kelahiran Rasulullah, meneladani perjuangannya, dan merefleksikan ajaran-ajaran mulia yang dibawanya.
Tema peringatan tahun ini, “Keteladanan Nabi Muhammad untuk Kelestarian Bumi dan Negeri”, menjadi titik tolak refleksi penting. Ia menegaskan bahwa keteladanan Nabi tidak hanya menyangkut ritual ibadah atau akhlak individual, tetapi juga merambah pada tanggung jawab ekologis dan sosial kemasyarakatan.
Keteladanan Nabi dalam Perspektif Filosofis
Secara filosofis, keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat dipahami sebagai upaya menghadirkan etika universal dalam kehidupan. Nabi bukan sekadar figur spiritual, melainkan simbol keterpaduan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Pemikiran filsuf Muslim klasik seperti Al-Farabi dan Ibnu Khaldun menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk kosmik.
Sebagai khalifah, manusia tidak boleh hanya mengatur sesamanya, tetapi juga menjaga harmoni dengan lingkungan.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan keseimbangan itu melalui gaya hidup sederhana, sikap hemat air, kepedulian pada hewan, dan penghormatan terhadap tanah.
Dalam konteks modern, refleksi filosofis ini dapat ditarik pada etika lingkungan. Hans Jonas, seorang filsuf Jerman, menekankan pentingnya prinsip tanggung jawab dalam era teknologi dan krisis ekologi. Prinsip itu selaras dengan sabda Nabi: “Sesungguhnya bumi ini hijau dan indah, dan Allah telah menjadikan kalian sebagai pengelolanya.” (HR. Muslim). Artinya, kelestarian bumi adalah amanah, bukan sekadar pilihan moral.
Etika Maulid: Menyatukan Ibadah dan Tanggung Jawab Ekologis
Secara etis, peringatan Maulid menuntut kita untuk menjembatani spiritualitas dengan aksi nyata. Nabi mencontohkan kesederhanaan, bukan hanya untuk kerendahan hati, tetapi juga untuk menghindari kerakusan yang merusak tatanan sosial dan ekologis.
Ketika Nabi melarang umatnya berlebihan dalam menggunakan air meski saat berwudhu di sungai yang melimpah, beliau sesungguhnya mengajarkan etika keberlanjutan. Etika ini mengandung tiga dimensi:
1. Dimensi Relasi dengan Tuhan
Menjaga bumi adalah bentuk ibadah. Kerusakan lingkungan berarti pengkhianatan terhadap amanah Ilahi.
2. Dimensi Relasi dengan Sesama
Eksploitasi alam secara berlebihan akan menimbulkan ketidakadilan sosial. Masyarakat miskin sering menjadi korban utama bencana ekologis.
3. Dimensi Relasi dengan Alam
Alam adalah mitra kehidupan, bukan objek eksploitatif. Nabi mencontohkan kasih sayang pada binatang, pepohonan, dan tanah.
Dengan kerangka etis ini, peringatan Maulid tidak berhenti pada seremonial, tetapi memanggil kita untuk bertindak nyata.
Religiusitas Ekologis: Spirit Maulid untuk Aksi Nyata
Secara religius, Maulid Nabi mengingatkan kita bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Rahmat itu tidak terbatas pada manusia, tetapi juga mencakup ekosistem.
Al-Qur’an menegaskan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56). Ayat ini mengikat setiap umat Islam agar tidak membiarkan kerakusan, keserakahan, dan kezaliman ekologis merusak bumi.
Spirit religius ini sangat relevan dalam menghadapi krisis iklim. Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan kerusakan laut bukan hanya akibat faktor alam, tetapi juga cerminan kegagalan manusia menunaikan amanah Tuhan. Karena itu, memperingati Maulid berarti meneguhkan komitmen spiritual untuk merawat bumi sebagai bagian dari iman.
Relevansi dengan Indonesia: Krisis Ekologi dan Tanggung Jawab Kolektif
Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia tengah menghadapi ancaman serius: deforestasi, pencemaran sungai, abrasi pantai, dan polusi udara. Data WALHI menunjukkan ribuan hektare hutan hilang setiap tahun akibat pertambangan, perkebunan, dan pembangunan infrastruktur yang tidak berkelanjutan.
Dalam konteks ini, tema Maulid 2025 menjadi alarm moral. Nabi meneladani kita untuk tidak serakah, menjaga keseimbangan, dan menempatkan alam sebagai bagian dari keluarga kehidupan.
Tanggung jawab ekologis bukan hanya milik pemerintah atau aktivis, tetapi juga seluruh umat beragama. Masyarakat bisa mulai dari hal kecil: mengurangi sampah plastik, menanam pohon, hingga mendukung energi terbarukan. Semua itu selaras dengan teladan Nabi.
Dimensi Kebangsaan: Merawat Negeri dengan Spirit Maulid
Peringatan Maulid Nabi di Indonesia tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga kebangsaan. Nabi Muhammad membangun masyarakat Madinah yang plural, adil, dan damai. Ia menegakkan Piagam Madinah sebagai dasar kehidupan bersama lintas agama dan etnis.
Spirit ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang majemuk. Kelestarian bumi dan negeri bukan hanya tentang menjaga ekologi, tetapi juga menjaga persatuan. Konflik sosial, intoleransi, dan ketidakadilan ekonomi adalah bentuk lain dari “kerusakan” yang harus dihindari.
Peringatan Maulid seharusnya melahirkan tekad baru: membangun negeri dengan prinsip keadilan, solidaritas, dan kebersamaan.
Konteks Sulawesi Utara: Harmoni Lintas Iman dan Ekologi
Sulawesi Utara dikenal sebagai laboratorium kerukunan di Indonesia. Toleransi antarumat beragama relatif terjaga, dan keragaman dijadikan modal sosial untuk membangun daerah.
Namun, Sulawesi Utara juga menghadapi tantangan ekologis: kerusakan terumbu karang, pencemaran laut, dan ancaman banjir bandang. Dalam konteks ini, tema Maulid 2025 mengingatkan masyarakat Sulut bahwa menjaga kerukunan harus berjalan beriringan dengan menjaga lingkungan.
Maulid bisa dijadikan momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa kerukunan tanpa keberlanjutan ekologis tidak akan bertahan lama. Sebaliknya, kepedulian pada bumi akan memperkokoh solidaritas lintas iman.
Implikasi Filosofis, Etis, dan Religius
Refleksi atas Maulid 2025 dengan tema keteladanan Nabi untuk kelestarian bumi dan negeri membawa implikasi penting:
1. Implikasi Filosofis
Manusia harus melihat dirinya sebagai bagian dari kosmos. Krisis ekologis bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga kegagalan memahami eksistensi sebagai khalifah di bumi.
2. Implikasi Etis
Gaya hidup berlebihan harus ditinggalkan. Kesederhanaan Nabi harus dihidupkan dalam pola konsumsi, pembangunan, dan relasi sosial.
3. Implikasi Religius
Merawat bumi adalah bagian dari iman. Maulid Nabi harus menjadi titik awal gerakan religius-ekologis yang konkret.
Penutup: Maulid sebagai Momentum Transformasi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2025 dengan tema “Keteladanan Nabi Muhammad untuk Kelestarian Bumi dan Negeri” bukanlah slogan seremonial. Ia adalah panggilan moral, spiritual, dan kebangsaan.
Dalam diri Nabi, kita menemukan teladan kesederhanaan, kasih sayang, dan kepedulian ekologis. Dalam ajarannya, kita menemukan etika keberlanjutan. Dalam jejaknya, kita menemukan inspirasi untuk membangun bangsa yang adil, damai, dan lestari.
Tugas kita hari ini adalah menerjemahkan teladan itu dalam kehidupan nyata: menjaga hutan, merawat laut, mengurangi sampah, memperkuat kerukunan, dan membangun negeri dengan keadilan. Hanya dengan begitu, Maulid tidak berhenti pada ritual, tetapi menjadi transformasi hidup. (*)
Referensi:
1. Al-Qur’an al-Karim.
2. Hadis Nabi Muhammad SAW (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi).
3. Hans Jonas, The Imperative of Responsibility (Chicago: University of Chicago Press, 1984).
4. Ibnu Khaldun, Muqaddimah.
5. WALHI, Laporan Lingkungan Hidup Indonesia 2024.
6. Al-Farabi, Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah.
7. Komaruddin Hidayat, Agama Punya Seribu Nyawa (Jakarta: Gramedia, 2022).
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado, Thread Tribun Manado, Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Kepala-Kanwil-Kakanwil-Kemenag-Sulut-Dr-Drs-H-Ulyas-Taha-MPd-Foto-kolase.jpg)