Breaking News
Senin, 25 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

El Nino 2026

Waspada El Nino 2026, Ini Daerah yang Diprediksi Paling Terdampak Kekeringan

El Nino fenomena alam yang membuat awan-awan hujan "pindah" dari Indonesia ke tengah Samudra Pasifik sedang aktif dan mulai memberi dampak.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Gryfid Talumedun
Tribun manado
KEKERINGAN - Musim kemarau di Minahasa Selatan beberapa waktu lalu. Musim kemarau diprediksi berlangsung lebih panjang dengan risiko kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran lahan yang meningkat di beberapa daerah. 

Untuk Sulawesi Selatan, Eddy juga menyebut wilayah ini perlu waspada terhadap kekeringan.

"Sementara Papua dan Sulawesi Utara diprediksi relatif aman dari dampak El Nino kali ini," kata Eddy.

Yang bisa dilakukan sekarang

Bagi petani di wilayah-wilayah terdampak, informasi jadwal musim dari BMKG penting untuk diikuti agar bisa menyesuaikan waktu tanam sebelum sumber air menyusut.

Masyarakat umum bisa mulai lebih hemat air dari sekarang, karena puncak kemarau berpotensi membuat sumur dan waduk lebih cepat surut dari tahun-tahun normal. 

Di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan, kesiagaan terhadap kebakaran lahan perlu ditingkatkan sedini mungkin.

Lantas, benarkah ini El Nino terparah sepanjang sejarah?

Kabar yang beredar di media sosial menyebut El Nino 2026 akan melampaui El Nino dahsyat tahun 1877.

Eddy meluruskan klaim ini dengan tegas.

Menurutnya, perbandingan dengan 1877 tidak bisa dilakukan secara ilmiah karena data iklim yang andal dari lembaga-lembaga resmi rata-rata hanya tersedia hingga tahun 1850.

Lebih jauh lagi, kondisi bumi di abad ke-19 sangat berbeda tidak ada kerusakan lingkungan seperti sekarang, emisi karbon nyaris nol, sehingga membandingkannya secara langsung tidak adil.

"Jangan bandingkan dengan sekarang. Tahun 1877, tanamannya masih hijau, lautnya masih bagus, tidak ada kerusakan di mana-mana. Emisinya mungkin masih nol," kata Eddy.

Referensi yang lebih tepat untuk El Nino kuat, menurut Eddy, adalah kejadian tahun 1997–1998 dan 2015–2016.

Keduanya pernah dikaji dalam publikasi ilmiah dan dikenal sebagai El Nino yang benar-benar ekstrem.

Eddy mengingatkan masyarakat untuk tidak panik dan tetap perlu waspada karena dampaknya nyata kemarau lebih panjang, risiko kekeringan, dan potensi kebakaran lahan di beberapa wilayah.

Namun ini bukan bencana iklim historis yang perlu membuat masyarakat panik.

Eddy menekankan pentingnya mengikuti informasi resmi dari BMKG sebagai lembaga pemerintah yang berwenang mengeluarkan prakiraan iklim dan cuaca di Indonesia, dan tidak terbawa arus klaim yang belum terverifikasi secara ilmiah.

-

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved