El Nino 2026
Waspada El Nino 2026, Ini Daerah yang Diprediksi Paling Terdampak Kekeringan
El Nino fenomena alam yang membuat awan-awan hujan "pindah" dari Indonesia ke tengah Samudra Pasifik sedang aktif dan mulai memberi dampak.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Gryfid Talumedun
Ringkasan Berita:
- El Nino 2026 diprediksi memicu kemarau lebih panjang, meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya pasokan air, dan kebakaran lahan di sejumlah wilayah Indonesia.
- Daerah yang perlu waspada antara lain NTT, NTB, Jawa, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
- BRIN menegaskan El Nino 2026 bukan yang terparah dalam sejarah. Masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari BMKG, tanpa perlu panik terhadap klaim yang belum terverifikasi.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Ancaman El Nino 2026 mulai membayangi sejumlah wilayah Indonesia.
Musim kemarau diprediksi berlangsung lebih panjang dengan risiko kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran lahan yang meningkat di beberapa daerah.
Meski dampaknya perlu diwaspadai, para ahli menegaskan El Nino tahun ini tidak akan menjadi yang terparah dalam sejarah seperti klaim yang ramai beredar di media sosial.
Baca juga: Bitung Sulawesi Utara Baru Saja Terjadi Gempa Siang Ini Sabtu 23 Mei 2026, Info BMKG Sudah 2 Kali
El Nino fenomena alam yang membuat awan-awan hujan "pindah" dari Indonesia ke tengah Samudra Pasifik sedang aktif dan mulai memberi dampak.
Beberapa wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami kekeringan yang lebih panjang, ketersediaan air yang menyusut, hingga risiko kebakaran lahan yang meningkat.
Eddy Hermawan, Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa dampak El Nino 2026 sudah cukup serius untuk diwaspadai meski tidak perlu dilebih-lebihkan.
Bagaimana El Nino bekerja dan mengapa Indonesia terdampak?
Secara sederhana, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik naik lebih panas dari normal.
Pemanasan ini menciptakan pusat tekanan udara rendah di sana, yang menarik awan-awan penghasil hujan menjauh dari wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
"Semakin panas lautan Pasifik di sana, maka awan-awan kita akan ditarik menuju Pasifik tengah. Akibat pusat tekanannya di sana. Karena ditarik, kawasan kita tidak kebagian hujan," kata Eddy Hermawan, Peneliti Ahli Utama BRIN kepada Kompas.com, Jumat (22/5/2026).
Hasilnya adalah musim kemarau yang datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan curah hujan yang jauh di bawah rata-rata.
Ini bukan hanya soal cuaca terasa lebih panas dampaknya langsung menyentuh sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan risiko kebakaran hutan.
Wilayah mana yang perlu paling waspada?
Menurut Eddy, wilayah yang pertama dan paling terdampak adalah NTT dan NTB.
Dari sana, dampak kekeringan bergerak ke barat: Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan juga masuk dalam zona rawan, terutama karena dua wilayah terakhir ini memiliki banyak lahan gambut yang sangat mudah terbakar saat kering.
| Info BMKG Hari Ini, Sabtu 23 Mei 2026: Terjadi Gempa Bumi di Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara |
|
|---|
| Sufmi Dasco Ahmad Hadir, Pembukaan Rakerda Gerindra Sulut 2026 Berlangsung Meriah |
|
|---|
| Peringatan HUT ke-19 Tahun Boltara, Bupati Sirajudin Lasena: Dirgahayu Lipu Kotabi |
|
|---|
| Berkas Lengkap, Dua Tersangka Sabu Lingkar Tambang Buyat Resmi Diserahkan ke Kejaksaan |
|
|---|
| Identitas 2 Warga Lapas Tahuna Terdeteksi Pesan Obat Keras Ilegal, Ada 1.010 Butir Trihexyphenidyl |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/kekeringan-lahan.jpg)