Wajib Tahu
Daftar 18 Spesies Asing Invasif di Perairan Indonesia, Tak Hanya Ikan Sapu-sapu
Pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan bahwa perhatian pemerintah tidak boleh berhenti pada pembersihan.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Gryfid Talumedun
Ringkasan Berita:
- Peneliti BRIN menegaskan ikan sapu-sapu bukan satu-satunya ancaman, karena terdapat 50 spesies asing di perairan Indonesia dan 18 di antaranya bersifat invasif yang merusak ekosistem.
- Selain sapu-sapu, ikan Red Devil menjadi ancaman serius karena populasinya meningkat dan dilaporkan merusak ikan lokal di Danau Toba hingga Danau Batur.
- BRIN meminta pemerintah menyusun strategi nasional pengendalian spesies invasif secara terintegrasi.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Dominasi ikan sapu-sapu di sejumlah perairan menjadi alarm serius bagi ekosistem Indonesia.
Peneliti BRIN mengungkap, spesies tersebut hanyalah satu dari puluhan ikan asing yang telah masuk ke perairan nasional, bahkan 18 di antaranya tergolong invasif dan berpotensi mengancam keberadaan ikan lokal jika tidak segera dikendalikan.
Namun, pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan bahwa perhatian pemerintah tidak boleh berhenti pada pembersihan kanal-kanal Ibu Kota semata.
Baca juga: Nama 7 Kepala Dinas dan Badan Pemkab Minut yang Baru Dilantik, Juga Ada 5 Pejabat Adminstrator
Peneliti PRLSDA BRIN, Triyanto, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu hanyalah satu dari sekian banyak "penjajah" di ekosistem perairan darat kita.
Melalui Kelompok Riset Produktivitas Ekosistem Perairan Darat, BRIN telah memetakan keberadaan spesies-spesies tersebut.
“Supaya masyarakat, pemerintah, dan para pemerhati lingkungan tidak hanya fokus di ikan sapu-sapu ya. Karena ikan sapu-sapu ini hanya salah satu contoh dari sekian ikan invasif yang sebenarnya sudah ada di Indonesia,” ujar Triyanto saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
50 Jenis Spesies Asing, 18 Sifatnya Invasif
Berdasarkan publikasi ilmiah yang disusun oleh tim peneliti BRIN, tercatat ada total 50 jenis spesies asing (alien species) yang masuk ke perairan Indonesia.
Dari jumlah tersebut, 18 jenis di antaranya telah teridentifikasi memiliki sifat invasif artinya mereka tidak hanya menetap, tetapi juga mendominasi dan merusak keseimbangan ekosistem lokal.
Salah satu yang kini menjadi ancaman serius selain ikan sapu-sapu adalah ikan Red Devil.
Spesies ini dilaporkan telah merusak populasi ikan lokal di lokasi-lokasi strategis.
“Kalau ikan lainnya mungkin sudah pernah mendengar istilah ikan Red Devil yang marak di Danau Toba, Waduk Jatiluhur, dan Waduk Cirata. Atau mungkin di perairan Indonesia yang lain seperti Danau Batur. Populasinya sudah juga meningkat di lokasi-lokasi tersebut,” jelas Triyanto.
Perlu Antisipasi Menyeluruh
Triyanto menekankan bahwa keberadaan jenis asing invasif (JAI) ini merupakan kasus yang sudah tersebar luas dan membutuhkan kebijakan pengendalian yang terintegrasi, bukan sekadar aksi seremonial di satu wilayah.
“Keberadaan ikan alien yang sifatnya invasif ini menurut kami harus segera diantisipasi atau dikendalikanlah populasinya. Jadi ikan sapu-sapu yang marak di Jakarta ini hanya salah satu bagian dari sudah adanya kasus terhadap penyebaran ikan invasif ini,” tambahnya.
Fenomena di Jakarta harus dijadikan momentum bagi pemerintah untuk menyusun strategi nasional pengendalian ikan invasif.
| Upah Minimum Australia Naik Mulai Juli 2026, Tembus Rp12 Juta Seminggu |
|
|---|
| Masih Ingat Ahmad Mursidi? Dulu Disorot Tabrak Bocah SD hingga Tewas, Kini Dilantik Jadi Staf Ahli |
|
|---|
| STNK Hilang atau Rusak? Ini Cara Mengurus Penggantian dan Biaya Resminya di Samsat |
|
|---|
| Mau Buat atau Perpanjang SIM C? Ini Rincian Biaya Resmi Mei 2026 |
|
|---|
| Daftar 10 Makanan Kaki Lima Indonesia Paling Enak 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Ikan-sapu-sapu-yang-disebut-bisa-hibernasi.jpg)