Sabtu, 25 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabar Israel

Mossad Bantah Perintah PM Israel Benjamin Netanyahu, Tolak Eksekusi Pemimpin Hamas di Qatar

Akibat penolakan tersebut, Israel akhirnya memilih opsi serangan udara pada Selasa (9/9/2025).

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Gryfid Talumedun
WIKIPEDIA
BANTAH - Logo badan intelijen Israel Mossad. Mossad Bantah Perintah PM Israel Benjamin Netanyahu, Tolak Eksekusi Pemimpin Hamas di Qatar 

Nitzan Alon, pimpinan negosiasi sandera, bahkan tidak diundang dalam diskusi tersebut.

Para pejabat tinggi diduga berasumsi Alon akan menolak operasi apa pun yang berisiko membahayakan sandera.

Mossad telah menolak

Dua sumber Israel yang mengetahui langsung isu tersebut mengatakan kepada The Washington Post bahwa Mossad menolak operasi darat yang sebelumnya sudah mereka siapkan.

Kepala Mossad, David Barnea, disebut menentang rencana itu karena khawatir hubungan intelijen dengan Qatar yang berperan sebagai mediator akan terganggu.

Israel kemudian mengumumkan bahwa serangan dilakukan oleh Angkatan Udara bersama dinas keamanan Shin Bet, dengan operasi dipantau langsung dari pusat komando Shin Bet.

Biasanya, Shin Bet bertanggung jawab atas keamanan dalam negeri, sementara operasi luar negeri menjadi ranah Mossad.

Washington Post mencatat, Mossad sebelumnya terlibat dalam sejumlah operasi besar, termasuk pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran tahun lalu, serta serangan mendadak ke Iran.

“Kali ini, Mossad tidak mau melakukannya di lapangan,” tulis The Washington Post mengutip pejabat Israel. Mossad disebut memandang Qatar sebagai mediator kunci dalam negosiasi dengan Hamas.

Seorang warga Israel lain yang mengetahui perbedaan pendapat itu mempertanyakan keputusan Netanyahu.

“Kita bisa mendapatkan mereka dalam satu, dua, atau empat tahun dari sekarang, dan Mossad tahu bagaimana melakukannya. Mengapa melakukannya sekarang?” ujarnya.

Baik Mossad maupun kantor perdana menteri Israel tidak menanggapi permintaan komentar dari media.

Detail operasi

Laporan terpisah dari Wall Street Journal pada Jumat (12/9/2025) mengungkap detail teknis serangan. Israel disebut menggunakan rudal balistik yang ditembakkan dari udara di atas Laut Merah.

Menurut pejabat senior AS, serangan itu dirancang agar jet tempur Israel tidak perlu memasuki wilayah udara Saudi.

Tujuannya agar operasi berlangsung cepat sehingga pemerintahan Donald Trump memiliki waktu lebih sedikit untuk mengajukan keberatan.

Delapan pesawat F-15 dan empat F-35 dilaporkan ikut serta, terbang dari Israel menuju selatan melintasi Laut Merah sebelum meluncurkan rudal ke arah Qatar dari sisi berlawanan Semenanjung Arab.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved