Breaking News
Sabtu, 6 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sulawesi Utara

Dolar Naik, Sulawesi Utara Diuntungkan dari Ekspor Namun Barang Impor Jadi Lebih Mahal

“Obat-obatan, alat kesehatan yang kita impor itu jadi mahal. Jadi memang ada sektor-sektor tertentu yang terdampak,”

Tayang:
Penulis: Isvara Savitri | Editor: Isvara Savitri
Dok. Pribadi
AKADEMISI - Dosen FEB Unima Robert Winerungan. Ia memberikan dampak positif maupun negatif naiknya dolar bagi Sulawesi Utara. 

Ringkasan Berita:
  • Di satu sisi, sektor ekspor dinilai mendapat keuntungan.
  • Namun di sisi lain harga barang impor diperkirakan akan semakin mahal.
  • Kenaikan dolar akan memengaruhi harga barang impor.

 

TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah membawa dampak beragam bagi perekonomian di Indonesia termasuk Sulawesi Utara

Di satu sisi, sektor ekspor dinilai mendapat keuntungan.

Namun di sisi lain harga barang impor, termasuk alat kesehatan hingga elektronik, diperkirakan akan semakin mahal.

Hal ini diungkapkan oleh Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Negeri Manado (Unima), Robert Winerungan.

“Kalau Sulawesi Utara punya, ada dampak positif dan ada dampak negatif. Dampak negatifnya, kalau kita banyak menggunakan barang-barang impor tentu akan mahal,” kata Robert ketika dihubungi, Senin (18/5/2026).

Kenaikan dolar akan memengaruhi harga barang impor seperti komputer, elektronik, hingga suku cadang. 

Selain itu, sektor kesehatan juga dinilai cukup terdampak karena masih bergantung pada produk impor.

“Obat-obatan, alat kesehatan yang kita impor itu jadi mahal. Jadi memang ada sektor-sektor tertentu yang terdampak,” ujarnya.

Meski demikian, Robert menilai kebutuhan bahan makanan masyarakat Sulut relatif aman karena sebagian besar dipenuhi dari produksi dalam negeri, bukan impor.

“Kalau bahan makanan, pada umumnya kita tidak impor. Jadi aman-aman saja,” katanya.

HARGA BAPOK - Harga sejumlah bahan pokok di Pasar Bersehati jalan Nusantara, Kecamatan Wenang, Kota Manado,terpantau relatif stabil pada, Selasa (12/5/2026). Cabai Rawit mengalami kenaikan sedikit dibanding pekan sebelumnya.
HARGA BAPOK - Harga sejumlah bahan pokok di Pasar Bersehati jalan Nusantara, Kecamatan Wenang, Kota Manado,terpantau relatif stabil pada, Selasa (12/5/2026). Cabai Rawit mengalami kenaikan sedikit dibanding pekan sebelumnya. (Tribun Manado/Ferdi Guhuhuku)

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tertentu yang masih bergantung pada impor juga berpotensi memberi tekanan terhadap anggaran negara maupun industri yang menggunakan BBM tersebut.

Namun di balik itu, Sulawesi Utara justru dinilai diuntungkan karena memiliki nilai ekspor yang lebih besar dibanding impor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Sulut banyak mengekspor komoditas ke negara yang menggunakan dolar Amerika.

“Kita lebih banyak ekspor daripada impor. Itu yang membuat kita untung. Misalnya ekspor ikan, kelapa, dan komoditas lainnya ke Amerika,” jelas Robert.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved