Minggu, 10 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Harian Kristen

Renungan Harian Kristen Kisah Para Rasul 21:37-40, Harus Bermental Baja

Memang banyak juga orang yang berkepribadian rapuh, mudah patah semangat, tidak tahan kritik, dan lain-lain, tatkala ada masalah.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Alpen Martinus
Tribun Manado/Alpen Martinus
RENUNGAN: Foto Alkitab. Renungan harian Kristen 

Ringkasan Berita:1.Berikut renungan harian Kristen berjudul harus bermental baja.

2.Firman Tuhan diambil dalam Kisah Para Rasul 21:37-40

3.Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya agar bersikap tenang di kala badai menerpa (Mark. 4:39-40).

TRIBUNMANADO.CO.ID - Merenungkan Firman Tuhan siang dan malam diajarkan Tuhan Yesus kepada kita.

Artinya setiap waktu adalah memuji Tuhan selalu.

Berikut renungan harian Kristen berjudul harus bermental baja.

Baca juga: Renungan Harian Kristen Kisah Para Rasul 20:1-12, Harus Peras Otak

Ditulis Boy Borang dalam moment of inspiration.

Firman Tuhan diambil dalam Kisah Para Rasul 21:37-40

“Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya;” (Kis. 21:40)

Idiom “mental baja” (mental toughness) merujuk pada karakter seseorang yang memiliki kemauan keras, keteguhan hati, dan sifat tahan banting sehingga tidak mudah menyerah, atau goyah dalam menghadapi tekanan, tantangan, maupun masalah.

Ini mencerminkan mental pemenang yang tetap tenang, focus, dan cepat bangkit dari keterpurukan.” 

Kontrasnya, orang sering menyebut ‘mental kerupuk’ terhadap orang yang mudah menyerah atau tidak bisa bertahan.

Memang banyak juga orang yang berkepribadian rapuh, mudah patah semangat, tidak tahan kritik, dan lain-lain, tatkala ada masalah.

Paulus berbeda.

Tatkala dia ditangkap, dituduh macam-macam, dipukul, dirantai, mau dibunuh, sementara suasana begitu kacau, dia tetap tenang (ay. 27-36).

Ia tentu saja berdoa dalam hatinya, dan malah mau minta waktu untuk berbicara, untuk menjelaskan latar belakang pertobatannya (lih.pasal 22, 23).

Sikapnya ini tentu mengherankan. 

Bukankah seharusnya dia gelisah, tertekan, penuh ketakutan?

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved