Sabtu, 9 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Harian Kristen

Renungan Harian Kristen Kisah Para Rasul 20:1-12, Harus Peras Otak

Itu nyata dari semua suratnya dalam PB, yang berisi pembahasan doktrinal dan praktikal secara seimbang. 

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Alpen Martinus
Tribun Manado/Alpen Martinus
ALKITAB: Foto ayat Alkitab. Renungan harian Kristen 

Ringkasan Berita:1.Berikut renungan harian Kristen berjudul harus peras otak.

2.Bacaan Alkitab dalam Kisah Para Rasul 20:1-12.

3.Itu nyata dari semua suratnya dalam PB, yang berisi pembahasan doktrinal dan praktikal secara seimbang. 

TRIBUNMANADO.CO.ID- Firman Tuhan adalah makanan bagi tubuh rohani kita orang percaya.

Membaca dan merenungkan isi ALkitab akan membuat kita mengerti kehendakNya.

Berikut renungan harian Kristen berjudul harus peras otak.

Baca juga: Renungan Harian Kristen Kisah Para Rasul 17:16-34, Jangan Tebal Telinga!

Ditulis Boy Borang dalam moment of inspiration.

Bacaan Alkitab dalam Kisah Para Rasul 20:1-12.

“Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat, dia sudah mati.” (Kis. 20:9).

Idiom “peras otak” (brain-racking) adalah “ungkapan atau idiom bahasa Indonesia yang berarti berpikir keras atau berusaha sungguh-sungguh untuk mencari solusi/ide.

Ungkapan ini menggambarkan penggunaan kemampuan kognitif secara maksimal, atau memaksa pikiran bekerja keras.

” Tentu saja kalau ini dimengerti secara literal, tidaklah mungkin.

Penggunaan idiom memang unik, tetapi itulah cara yang menarik untuk menjelaskan sesuatu maksud.

Apakah ketika Paulus berbicara tentang kebenaran Injil, ia berpikir keras?

Sudah pasti! Itu nyata dari kisah yang kita baca, sampai Eutikhus terjatuh, karena lamanya mendengarkan Paulus. 

Bukan saja bicara isi percakapan, tetapi juga durasi dia berbicara, menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh memaksimalkan kemampuannya untuk mengomunikasikan apa yang harus dia sampaikan.

Seorang profesor filsafat saja, berusaha agar apa yang dia sampaikan dapat dipahami, apalagi ketika menerangkan kebenaran firman Tuhan, yang tidak boleh salah.

Lukas (penulis Kisah Para Rasul), tidak mencantumkan berapa jam Paulus berbicara ketika itu, tetapi yang jelas “lama berbicara sampai tengah malam” menuntut energi berpikir yang besar.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved