Senin, 8 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Apindo Sulut

Apindo Sulut: Direct Call Dorong Roda Ekonomi Sulawesi Utara Berputar Lebih Cepat

Direct Call dari Manado ke negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Korea dan Jepang bahkan Eropa terus digaungkan. 

Tayang:
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Glendi Manengal
Tribun Manado/Fernando_Lumowa
APINDO - Foto Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulawesi Utara, Nicho Lieke. Apindo terus gaungkan soal direct call dari Manado ke negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Korea dan Jepang bahkan Eropa. 

Katanya, kapal sekali jalan membawa minimal 700 hingga 1000 kontainer. "Jika terisinya di bawah itu, sulit sustain (bertahan)," katanya. 

Karena itu, Lieke menyatakan untuk mewujudkan direct call butuh kolaborasi antar pemerintah, pengusaha, pelaku UMKM. 

Selanjutnya, ia membeber, tantangan lainnya ialah biaya logistik. Di mana, biaya logistik dari Jakarta ke Manado dua kali lebih mahal dari Shanghai ke Jakarta. 

"Kemudian, lama waktu ekspor ke China dari Manado 45 hari. Kalau dia ekspor ikan, produknya sudah beda kualitasnya. Ini yang harus dipecahkan juga," ungkapnya. 

Dubes RI untuk China dorong pelaku UMKM go ekspor

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh atas Republik China dan Mongolia, Jauhari Oratmangun mengajak perwakilan pelaku UMKM Sulawesi Utara berdialog. 

Dialog berlangsung dalam nuansa akrab, ngopi bareng di Megamall Manado, Senin 19 Januari 2026.

Dalam bincang-bincang yang dipandu Amelia Tungka, Direksi Megamas, Jauhari mengajak UMKM untuk mendorong kapasitas sehingga produknya bisa diekspor ke China maupun negara lainnya. 

Dengan populasi terbesar di dunia, kata Jauhari, beragam produk dari Indonesia punya peluang. 

Apalagi produk makanan. "Produk seperti sarang walet, kelapa dan turunannya, hasil perikanan seperti abon ikan sangat laris," kata Jauhari. 

Menurut dia, pelaku UMKM harus mencari informasi dan berani membuka jejaring. 

"Kami di Kedubes China punya Windows of Indonesia. Di situ produk-produk unggulan kita pamerkan," katanya. 

Ditambahkannya, pasar China terus berkembang, khususnya untuk produk makanan dan minuman. Produk kerajinan Indonesia juga cukup diminati. 

"Namun pelaku usaha harus benar-benar memperhatikan aspek harga dan melakukan negosiasi secara cermat, termasuk dalam menentukan term of payment dengan calon pembeli,” ujar Jauhari.

Ia bilang, untuk bisa masuk pasar Tiongkok, pelaku UMKM harus paham regulasi dan alur. "Karena itu jangan sungkan minta pendampingan dari Bea Cukai, asosiasi seperti Apindo dan BPOM," jelasnya. 

Kepala Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara, Erwin Situmorang menambahkan, pasar China sangat besar dan itu merupakan peluang. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved