Saat itu, dia mengaku mendapat tawaran pekerjaan sebagai marketing di salah satu platform jual beli online.
“Saya keluar dari Indonesia itu pada 22 April 2024. Saat itu saya dijanjikan bekerja sebagai marketing Shopee,” kata Salman kepada Tribunnews.
“Iming-imingnya katanya di sana gaji besar, tempat aman, tidak ada melakukan fisik. Tetapi setelah saya sampai di Kemboja memang tidak ada (gaji besar),” sambung dia.
Salman lancar menceritakan pekerjaan yang dilakukannya selama menjadi online scam di Kamboja.
Di mana dirinya berpura-pura menjadi seorang perempuan di media sosial untuk merayu laki-laki di platform Facebook dan Instagram.
Bahkan, dia ditarget harus menyasar para korban di dua negara, yakni Indonesia dan Malaysia.
“Di sana itu kita bekerja sebagai wanita untuk merayu laki-laki yang ada di Facebook dan Instagram. Kalau di Kemboja itu kemarin saya disuruh untuk dua negara, Indonesia dan Malaysia,” ungkapnya.
“Target yang disuruh untuk mencari member Indonesia sama Malaysia,” jelasnya.
Meski tak menerima kekerasan fisik, Salman mengatakan selama bekerja di Kamboja selama 2 bulan dirinya tidak pernah mendapatkan gaji.
“Kalau di Kemboja saya tidak pernah dapat gaji,” ujarnya.
Karena perusahaan di Kamboja tutup, Salman kembali dipekerjakan ke Myawaddy, Myanmar untuk pekerjaan yang sama sebagai online scam di Juli 2024 lalu.
Jika di Kamboja dia tak pernah menerima kekerasan fisik, maka di Myanmar ia merasakan hal sebaliknya.
“Saya ditarik sama perusahaan untuk kerja lagi di Myanmar. Sesudah sampai di Myanmar itu saya banyak kena perlakuan fisik,” ujarnya.
Berbeda di Myanmar, Salman bercerita kalau pekerjaannya kali ini bisa mendapatkan gaji.
Namun harus memenuhi target perusahaan yang diinginkan, yakni dengan cara menipu melalui platform dengan nominal uang 4.000 dolar AS atau setara kurang lebih Rp66 juta dalam setiap bulan.