Dikatakan Budi, riwayat pembuatan kue sembahyang keluarganya berawal dari sang kakek dan nenek.
Kala itu ada kebutuhan besar untuk kue sembahyang.
"Mereka belajar, trial and error, lantas menemukan komposisi yang pas," katanya.
Kemampuan itu menurun pada ibu Budi, lantas kepadanya.
Prosesnya pun secara alami.
"Ceritanya ibu membuat kue tersebut sambil menggendong saya masih kecil, kemudian saya mulai tertarik dengan pembuatan kue tersebut dan menekuni nya hingga kini," katanya.
Kue yang dibuatnya adalah kue lapis, mangkok, kue ku, dan keranjang.
Menurut dia, kue dalam persembayangan sekilas sama dengan kue tradisional, tapi bedanya ukurannya sangat besar.
"Kue sembahyang tidak menggunakan bahan bernyawa, jadi tidak pakai telur. Saya pakai beras asli," katanya.
Beber dia, kue sembahyang harus memenuhi standar tertentu.
Baca juga: Makan Siang di Restoran Casa Bakudapa Manado, Berikut Menu Pesanan Presiden Joko Widodo
Baca juga: 100 Personel Brimob Polda Sulawesi Utara Dikirim ke Sulawesi Tengah, Amankan Lokasi PT GNI
Makna filososfis Kue Keranjang Imlek 2020 (Reservasi.com via Tribun Travel)
Contohnya kue mangkok, harus mengembang bagus dan sempurna.
Begitupun kue ku yang memakai kacang hijau yang dikupas hingga berwarna kekuning-kuningan.
"Kue ku biasanya dipersembahkan saat sembahyang Tuhan. Simbolnya adalah hati kita yang tulus," katanya.
Ia menuturkan, tiap kue bermakna spiritual.
Kue lapis misalnya, yang punya makna rezeki yang bertambah.