Inilah 7 Mitos Ikan Hiu yang Tak Terbukti Kebenarannya, Salah Satu Dianggap Pemakan Manusia

Editor:
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi

Juga, ikan hiu sebenarnya dapat terkena penyakit tertentu.

Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Fish Diseases pada 2016 menemukan ada setidaknya 44 kasus penyakit Legiun di antara 21 spesies chondrichthyes atau ikan bertulang rawan yang berbeda.

Spesies ini termasuk hiu, pari, dan chimaera.

Sekitar sepertiga dari total angka ini bersifat ganas.

Mitos ikan hiu dapat menyembuhkan kanker berasal dari tahun 1970-an ketika para peneliti di Johns Hopkins School of Medicine mengamati tulang rawan dapat menghentikan pembuluh darah baru yang berkembang menjadi jaringan.

Ini adalah sebuah ciri khas dari tumor ganas.

Para ilmuwan pertama kali bereksperimen dengan tulang rawan kelinci, dan uji coba dengan tulang rawan hiu tak lama kemudian juga dilakukan.

Pada saat yang sama, seorang ilmuwan di Sarasota, Florida, melakukan eksperimen di mana ia mengekspos ikan hiu ke zat yang dikenal bersifat karsinogen dan mencatat, ikan hiu itu tidak terkena tumor.

Hal inilah yang memicu industri pil tulang rawan ikan hiu yang disebut-sebut sebagai 'obat ajaib' sehingga menyebabkan menurunnya populasi ikan hiu secara drastis.

Menurut Scientific American, ada penurunan 80 persen populasi ikan hiu di Amerika Utara dalam satu dekade terakhir.

7. Mitos: Ikan hiu tidak punya predator

(Zac Wolf/Wikimedia Commons)

Faktanya, predator terganas bagi ikan hiu adalah manusia, apalagi dengan adanya pemancingan dan perburuan secara besar-besaran.

Ikan hiu juga bisa mati karena tersangkut, terluka, atau tercekik akibat senar pancing manusia.

Menurut laporan statistik tahun 2013 yang dikompilasi oleh peneliti Dalhousie University di Halifax, Kanada, rata-rata 100 juta ekor ikan hiu dibunuh di seluruh dunia setiap tahunnya.

Sebagian besar kasus kematian ikan hiu disebabkan oleh industri sirip ikan hiu ilegal.

Berita Terkini