Namun, hanya 5 dari 88 kasus itu yang berujung fatal.
Ketika terjadi serangan ikan hiu, biasanya itu disebabkan karena ikan hiu merasa penasaran atau bingung kenapa ada manusia di dalam air.
Setelah adanya beberapa serangan ikan hiu terhadap para peselancar beberapa tahun terakhir, ilmuwan berspekulasi ikan hiu sudah mengembangkan rasa daging manusia.
Namun, biasanya ikan hiu hanya mengecek makanan atau obyek asing dengan melakukan gigitan eksploratori atau menyelidik.
3. Mitos: Ikan hiu harus terus bergerak karena kalau tidak mereka akan mati
Ikan hiu memang mendapatkan oksigen dari air laut yang mengalir melalui insang mereka, tapi hanya beberapa spesies yang harus terus menerus bergerak untuk bisa bernafas.
Nenek moyang hiu yang kita kenal sekarang bernafas melalui pemompaan bukal, suatu metode yang memerlukan masuknya air ke dalam mulut dan di atas insang.
Berbagai spesies, termasuk hiu malaikat, hiu perawat, dan wobbegong, yang semuanya beraktivitas di dasar samudra masih mengandalkan metode ini.
Sehingga tidak mengharuskan mereka terus bergerak.
Spesies yang lebih aktif, seperti hiu macan pasir, dapat menggunakan pemompaan bukal dan teknik lain yang disebut ventilasi ram secara bergantian untuk bernafas.
Dengan berenang cepat, mereka bisa membuat air masuk ke mulut mereka.
Namun, beberapa hiu lain seperti hiu besar, hiu paus, hiu mako, dan hiu salmon tidak dapat menggunakan pemompaan bukal sama sekali.
Dengan metode 'obligate ram breather', spesies ini malah akan tenggelam jika mereka berhenti berenang.
4. Mitos: Ikan hiu punya otak sangat kecil dan dengan begitu mereka tidak pintar
Asumsi otak hiu yang seukuran kenari memang kerap terdengar.