Kamis, 9 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Harian Kristen

Renungan Harian Kristen Lukas 20:25-37, Kasih Menembus Batas

Jalan antara kota itu rawan perampokan, sehingga tidak jarang orang yang sudah menjadi korban di wilayah itu

Editor: Alpen Martinus
Meta AI
ALKITAB: Gambar ilustrasi Alkitab 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan harian Kristen kali ini berjudul kasih menembus batas.

Bacaan Alkitab diambil dalam Lukas 20:25-37.

Firman Tuhan : “Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur.

Baca juga: Renungan Harian Kristen Lukas 5:12-16, Aku Mau, Jadilah Engkau Tahir

Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.” (Lukas 10:34).

Mendengar kata Yerikho, mungkin yang paling diingat adalah cerita tentang robohnya tembok Yerikho, saat orang Israel dibawah pimpinan Yosua menaklukkan kota itu, dengan berkeliling selama 7 hari sambil membawa tabut perjanjian dan para imam meniup sangkakala.

Perjalanan antara Yerusalem ke Yerikho menempuh perjalanan yang beresiko.

Jalan antara kota itu rawan perampokan, sehingga tidak jarang orang yang sudah menjadi korban di wilayah itu.

Melihat kejadian yang menimpah korban perampokan perjalanan dalam bacaan kita, terlihat jelas terjadi perbedaan reaksi dan tindakan dari ketiga orang yang melewatinya.

Ada perbedaan reaksi dan tindakan dari Imam dan Lewi dengan orang Samaria.

Imam dan Lewi sepertinya memiliki orientasi berpikir lebih besar tentang dirinya, apa yang akan terjadi pada dirinya apabila singgah menolong.

Mereka takut dan kuatir, merasa terancam. Karena daerah itu rawan, bisa saja masih ada penyamun di sekitar tempat itu, sehingga potensi menjadi korban berikutnya.

Tetapi orang Samaria berpikir sebaliknya, justru dia berpikir apa yang akan terjadi dengan orang itu kalau ia tidak menolongnya, kondisinya akan semakin parah.

Padahal Samaria dari suku bangsa yang dianggap hina dan dibenci oleh orang Yahudi, bahkan tidak mau berurusan dengan mereka.

Tapi si Samaria tidak memikirkan hal itu. Dia berani berpikir di luar dari biasanya demi sesamanya.

Situasi dan kondisi seperti ini, bisa saja dijumpai disekitar kita, yaitu banyak orang-orang yang membutuhkan pertolongan namun kondisi kita yang dilema.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved