Catata Wartawan
Rumah Kopi Jiwa
Mengapa rumah kopi? Karena rumah kopi di Manado bukan sekedar rumah yang ada kopinya. Tapi sebuah jiwa.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kota Manado berulang tahun ke - 402 pada Senin (14/7/2025) dan saya menulis tentang rumah kopi, dari sebuah rumah kopi bergaya antik yang merupakan eks studio foto di perempatan Plaza, pusat kota, Manado, Sulawesi Utara.
Mengapa rumah kopi? Karena rumah kopi di Manado bukan sekedar rumah yang ada kopinya. Tapi sebuah jiwa.
Badannya adalah kota. Jiwanya sebuah rumah kopi.
Berabad - abad lamanya, toleransi disemai di kota Manado, bukan lewat gerakan top down atau meja kuasa, tapi dari secangkir kopi di rumah - rumah kopi.
Sambil ngopi, warga yang terdiri dari dari berbagai suku dan agama melakukan dialog dan tumbuhlah "Torang Samua Basudara" secara alami, bak bunga yang mekar tanpa bantuan musim.
Rumah kopi juga adalah penyemai demokrasi di Manado.
Di sana eksekutif, legislatif, pers dan masyarakat ketemu.
Di rumah kopi seperti Jalan Roda, kebijakan dari atas langsung mendarat di hati rakyat.
Sebaliknya, masyarakat kecil mengeluarkan uneg - unegnya langsung kepada pemimpin.
Tak heran banyak kebijakan pro rakyat muncul dari kongkow kongkow di rumah kopi.
Karena itulah, Presiden, politisi papan atas nasional dan Menteri wajib hukumnya datang di Jalan Roda kala singgah di Manado.
Rumah kopi bukan hanya milik orang tua atau kaum serius.
Anak anak muda pun menjadikannya markas kreativitas.
Di tengah makin terbatasnya ruang ekspresi, rumah kopi jadi pelarian bagi Gen Z.
Rumah kopi jadi lokasi untuk menumbuhkan kreativitas, ide dan gagasan, peluang bisnis hingga memperluas jejaring.
Saya pernah mewawancarai seorang pemilik rumah kopi tua di Manado.
Rumah kopinya konon yang paling tua di Manado.
Nama rumah kopi itu dulunya Tong Fang.
Kini disebut Cahaya Timur.
Cerita sang pemilik, Tong Fang di masa jayanya dulu sangat ramai.
Waktunya bukanya mulai pukul 2 pagi.
"Ini dulunya sangat ramai," katanya.
Rumah kopi itu mulai sepi di awal tahun 2000 an seiring tumbuhnya bisnis rumah kopi di Manado.
Kemudian muncul Covid 19.
Untuk bertahan, terpaksa ia tak mengerjakan orang.
Semuanya dikerjakan sendiri, dari barista, melayani tamu hingga kasir.
Sampai kapan bertahan ?
"Ini warisan orang tua, saya bertekad bertahan karena masih ada yang suka kopi ini," kata dia.
Ikhtiarnya itu juga serasa harapan kita semua ; jangan sampai rumah kopi kuno punah, karena merekalah jiwa kita. (Arthur Rompis)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/KOPI-Ilustrasi-Kopi-13-Juli-2025-56567.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.