Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Harga Kopra di Manado

Info Harga Kopra Sulawesi Utara Hari Ini Minggu 6 Juli 2025, Dulu Dijual Rp 10 Ribu Kini Naik Tinggi

Kondisi ini sangat kontras dibanding tahun-tahun sebelumnya, saat harga komoditas andalan Sulut itu sempat jatuh ke bawah Rp 10 ribu per kilogram.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Indry Panigoro
Meta Ai Whatsapp
KOPRA: Ilustrasi kelapa bahan utama kopra, foto hasil buatan Meta Ai Whatsapp, Minggu 6 Juli 2025. Harga kopra di Manado, Sulawesi Utara (Sulut) mengalami kenaikan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID – Kabar gembira untuk petani kelapa di Manado, Sulawesi Utara.

Terlebih bagi mereka yang menjadi petani kopra.

Pasalnya harga kopra semakin melambung tinggi.

Dari yang awalnya sempat dijual dengan harga Rp 10 ribu per kilogram.

Kini harga jualnya naik lebih dari 2 kali lipat.

Di sejumlah gudang pengepul di Kota Manado, harga kopra kini menyentuh angka Rp 22 ribu per kilogram.

Di titik terendahnya, harga tetap bertahan di Rp 21 ribu per kilogram.

Kondisi ini sangat kontras dibanding tahun-tahun sebelumnya, saat harga komoditas andalan Sulut itu sempat jatuh ke bawah Rp 10 ribu per kilogram.

Saat itu, petani terpaksa menjual kopra dengan harga murah, bahkan ada yang menahan panen karena ongkos produksi lebih tinggi dari hasil jual.

Kini, situasinya berubah.

Wempi, seorang petani kopra di Minahasa, merasakan langsung manfaat dari harga yang membaik ini.

Dalam sebulan, ia bisa memanen kopra hingga 750 kilogram, bahkan kadang menyentuh satu ton.

"Kalau dihitung, sekarang bisa dapat belasan juta per panen. Dulu kadang cuma cukup buat beli beras," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (6/7/2025).

Foto Pribadi Wempi Londa
CERITA PETANI - Potret Sejumlah petani terlihat sedang memproses kelapa di sebuah bangsal sederhana di tengah perkebunan kelapa yang luas di Minahasa, Sulawesi Utara beberapa waktu lalu.
Foto Pribadi Wempi Londa CERITA PETANI - Potret Sejumlah petani terlihat sedang memproses kelapa di sebuah bangsal sederhana di tengah perkebunan kelapa yang luas di Minahasa, Sulawesi Utara beberapa waktu lalu. (Foto Pribadi Wempi Londa)

Bagi Wempi, kenaikan harga ini tak hanya membuat dapur tetap mengepul.

Ia juga bisa menutupi kebutuhan lain yang sempat tertunda, seperti biaya sekolah anak-anak.

Dua anaknya kini duduk di bangku sekolah dasar dan menengah pertama.

"Sekarang saya bisa bayar keperluan mereka, beli seragam baru, dan sepatu. Kalau dulu, harus tunggu panen berikut baru bisa lunasi," katanya.

Tak hanya itu, Wempi mengaku mulai bisa menabung kembali.

Bahkan beberapa utang kecil yang sempat tertunda, kini sudah lunas.

Salah satunya utang koperasi untuk beli pupuk dan kebutuhan kebun.

"Saya juga sempat perbaiki dapur rumah. Ganti atap bocor. Kalau harga tetap stabil, bisa pikir bangun kamar untuk anak," ungkapnya.

Kondisi ini menunjukkan kenaikan harga kopra membawa dampak sosial yang luas, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar petani.

Selain mendongkrak pendapatan, hal ini juga mengurangi tekanan ekonomi rumah tangga petani yang selama ini hidup pas-pasan.

Ia berharap Pemerintah daerah ikut menjaga stabilitas harga ini melalui kebijakan yang berpihak pada petani.

Sebab, fluktuasi tajam seringkali membuat mereka berada dalam situasi sulit.

"Kalau bisa, jangan sampai turun lagi. Ini baru kami bisa merasa hidup layak," kata Wempi, menutup percakapan.

Tren Positif

Pengamat Ekonomi Sulawesi Utara Vecky Masinambow, menilai tren positif ini harus dimanfaatkan dengan baik.

“Harga kopra yang baik ini seharusnya memberikan motivasi kepada petani dan pemda untuk tetap memelihara dan mengembangkan tanaman kelapa,” ujar Vecky, Minggu (6/7/2025).

Menurutnya, momentum ini bisa mendorong upaya peremajaan tanaman kelapa dan pengembangan produk turunan. 

Ia juga menyarankan agar pemerintah daerah memperkuat edukasi kepada petani untuk memanfaatkan seluruh potensi kelapa, bukan hanya kopra.

Selain kopra, kelapa juga bisa diolah menjadi coco chips, VCO (Virgin Coconut Oil), hingga bioavtur. Bahkan kelapa yang rusak pun masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar nabati.

Meski harga tinggi menguntungkan petani, industri pengolahan mulai merasakan tekanan akibat naiknya biaya bahan baku.

Namun hal ini dinilai bisa diatasi jika sektor hulu dan hilir bekerja sama memperkuat rantai nilai kelapa. (Pet)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved